Fonna Zahra
Sebuah kendaraan bermotor yang
dikendarai oleh seorang laki-laki paruh baya yang membonceng seorang perempuan
seumuran, tiba-tiba melambat lajunya di
atas jembatan Unteunkot, Cunda. Jembatan yang
telah sekitar 5 tahun dibuat dua jalur, dengan model yang sangat unik.
Jalur lama, arah lhokseumawe-Lhoksukon, badan jalan rendah, dengan pagar kiri
kanan yang setinggi pinggang orang
dewasa. Sementara jalur Lhoksukon-Lhokseumawe, badan jembatan tinggi melengkung
dengan pagar kiri kanan yang sangat tinggi melengkung pula dari arah kiri dan
kanan. Jembatan itu seumpama orang pincang, begitulah. Sebuah desain yang
egois.
Kendaraan itu berhenti tepat di
tengah jembatan, sesuatu kemudian
melayang kea rah kiri, agak tinggi sebelum tercemplung ke alirah sungai yang mengarah ke laut pusong itu. Ketika
kendaraan saya semakin dekat, saya mencoba melihat ke arah mereka dengan detil
dengan melambatkan kendaraan. Penampilan necis, berbaju kemeja, celana kain,
sang perempuan paruh baya berjilbab lebar warna hijau tua, baju gamis coklat
terang. Penampilan keduanya sangat parlente, bersih dan rapi, seperti orang
kerja kantoran. Istilah lainnya orang berduit dan berpendidikan. Tetapi kok
untuk mengurus sampah aja mesti melibatkan sungai?
Miris, sedih, tak terkira
perasaan saya waktu itu. Sepertinya bungkusan plastik itu bagai dilempar ke
muka saya. tak habis piker saya, kemana hati nuraninya? Kemana pikiran
sehatnya? Astaghfirullah. Andaikan generasi
kami ini tidak bisa mencintai lingkungan, ya Allah anugerahkan kepada
generasi penerus kami kecintaan itu. Sadarkanlah anak cucu kami ya Allah,
semoga ke depan, kelakuan kami yang buruk ini tidak diwarisi mereka.
Kejadian serupa bukan pertama
kali saya lihat. Di jembatan sungai Bungkaih waktu itu saya lihat juga seorang
bapak muda, melempar kantong plastic berisi sesuatu, yang pasti bukan barang
berharga, sengaja ia berkendara dari rumahnya yagn hanya berjarak sekitar 150
meter dari jembatan itu, untuk membuang sampah ke sungai. Menurut kakak saya
yang rumahnya juga tak jauh dari situ, kelakuan si Bapak ini sudah sering ia
lihat, bahkan setiap kali ia membeli ikan, sisa limbah ikan hasil dia
bersihkan, ia bela-belain buang khusus ke sungai, berikut kantong plastiknya. “Kenapa tidak ia gali lubang aja di
belakang rumahnya untuk mengubur limbah ikan itu, padahal halaman rumahnya
luas” sungut kakak saya waktu itu.
Satu sisi, saya bahagia mendengar
pemikiran kakak saya, Alhamdulillah ia sama seperti saya menyayangi sungai. Di
sisi lain, ternyata tidak banyak orang yang seperti saya dan kakak. Buktinya,
di jembatan Cunda kejadian siang ini. Dan saya yakin itu bukan kejadian pertama
dan terakhir.
Saya selaku pendidik, sangat
menyayangkan tingkah laku demikian. Satu sisi saya selalu berusaha optimis,
bahwa anak-anak muda sekarang lebih banyak belajar tentang cinta lingkungan,
seperti mencintai diri sendiri. Tidak
seperti ketika saya sekolah dulu, tidak sama sekali medapat ilmu tentang
bagaimana memperlakukan alam. Kami hanya diberi teori tentang alam, tetapi
tidak diberi cara bagaimana semestinya memperlakukannya. Apa efek buruk kalau
tidak berbuat baik pada lingkungan. Padahal dalam Islam banyak sekali ayat-ayat
yang menyuruh kita menghargai dan mencintai lingkungan demi kehidupan manusia
yang harmonis, demi kehidupan manusia yang berkelanjutan, untuk mewariskan
lingkungan sehat bagi anak cucu manusia.
Semua ilmu tentang kecintaan
lingkungan daya dapat dari pembelajaran kehidupan sewaktu di S2, dan ketika
saya sempat training ke Texas akhir tahun 2018 lalu. Padahal bidang ilmu yang
saya geluti bukan tentang ilmu alam. Negara tersebut telah menjadikan cinta
lingkungan sebagai nafas kehidupannya, dan terpatri dalam setiap diri
generasinya, tanpa kecuali. Sungai yang bersih, bebas sampah, hewan air
terpelihara baik, populasi ikan terlindungi, burung-burung bebas beterbangan
tanpa takut ada penembak atau pemburu, tenyata bukan lagi milik pedesaan kami,
tetapi milik kota-kota di Negara maju…
Lhokseumawe.25 Feb 2018. Lagi
sedih tentang sungai.