Fonna Zahra
Sudah lama aku ingin menulis tentang tisu toilet, tetapi baru kali ini berkesempatan. Aku awalnya malas menulisnya karena kupikir itu adalah hal remeh temeh yang tak ada gunanya. Tetapi semakin aku ingin mengenyahkan rasa ingin menulis itu, semakin kerap aku dilanda risau. Baiklah, setelah lebih 15 tahun, akhirnya hari ini aku menulisnya.
***
Tsunami
yang meluluhlantakkan bumi Serambi Mekkah tahun 2004 silam, menyisakan duka
cita mendalam, tak lekang dari ingatanku bagaimana air hitam pekat itu menyapu
seluruh isi kota dan desa di Aceh waktu itu. Usai tsunami, banyak hal berubah
tentang Aceh. Aku yang dulu tak familiar dengan tisu, berkat tsunami,
berbondong-bondong entah bantuan dari mana saja menyediakan tisu gratis
berlimpah untuk masyarakat.
Mungkin bagi masyarakat perkotaan, keberadaan tisu sudah lazim dan merupakan kebutuhan primer. Tetapi bagi masyarakat di tempat tinggalku, yang notabene masyarakat kampung, tisu adalah barang mewah. Bahkan orang-orang tua tidak tahu barang itu apa dan untuk apa.
Sejak
kecil aku tak pernah mengenal tisu. Di rumah, abi dan ummi tak pernah
menyediakan tisu di kamar mandi. Seusai BAB maupun BAK, kami terbiasa hanya
langsung mengenakan pakaian dalam. Entahlah bagaimana bisa keadaan lembab di
area sensitif itu membuat hidup kami tetap sehat sampai sekarang.
Para
pemberi bantuan yang kebanyakan dari luar negeri itu, menggolontorkan
bertruk-truk tisu, karena dianggap kami sang pesakitan yang terkena dampak
tsunami itu kesulitan memperoleh tisu untuk urusan hajat ‘penting’ harian. Padahal,
kami tak terbiasa memakai tisu itu. Urusan membersihkan hajat bagi kami, harus
menggunakan air, dan itu sudah cukup. Tanpa air, kami tak bisa buang hajat. Dan syukur Alhamdulillah, air mudah diperoleh. Meskipun saat awal-awal setelah musibah tsunami, agak sulit mendapatkan air bersih.
Nah,
ketika sempat terdampar di negeri panser untuk menuntut ilmu, barulah kutahu
bahwa orang luar negeri itu tidak menggunakan air untuk membersihkan ‘hajat’nya,
mereka cukup mengelap dengan tisu. Aih!! Kubayangkan sisa kotoran yang melekat
di dubur cuma disapu dengan tisu kering, apa bisa bersih? Sementara aku saja
harus menyiram air dan menggosok berkali-kali untuk memastikan kotoran dan
baunya telah lenyap. Sehingga, selama dua tahun berwara-wiri di negeri asing
itu, bertisu untuk membersihkan hajat, tidak masuk ke akalku. Oleh sebab itu, ketika
aku sedang berada di luar apartemenku, sering kusediakan botol air kosong dalam
tas, agar ketika mesti BAB atau BAK, bisa menampung air untuk cebok, karena semua toilet di manapun
tidak menyediakan air untuk cebok. Tetapi
meskipun begitu, toilet di sana walaupun toilet umum, bersih melebihi bersihnya
kamar tidurku.
Lalu,
kalau tak menggunakan sebagai perlengkapan di toilet, tisu seabreg itu
dikemanakan? Tak perlu heran, kalau orang-orang menjual tisu tisu toilet
bergulung-gulung itu ke toko, atau dibagikan ke orang lain. Bagi yang
menggunakan sendiri, tisu gulung tersebut diletakkan di atas piring, dan
dijadikan sebagai tisu untuk mengelap tangan dan mulut seusai makan. Jadi,
jangan heran, ketika itu, setiap ada acara kenduri, hajatan, dan sebagainya,
tisu toilet dijadikan serbet untuk membersihkan tangan dan mulut.
Hal itu lazim saja bagi masyarakat di tempatku waktu itu. saat ini, setelah 15 tahun berlalu, masyarakat sudah melek tisu. Di kios-kios kecil pun sudah bisa diperoleh tisu, tidak mesti harus ke minimarket. Masyarakat juga sudah banyak yang menyediakan tisu di rumah, artinya, efek tsunami telah memperkenalkan risu toilet pada masyarakat Aceh di kampung-kampung. Di satu sisi, kebersihan area sensitif bisa lebih terjaga, di sisi lain, penggunaan tisu berlebihan bisa menjadi sebab musabab hilangnya hutan, bukankan membutuhkan kayu untuk membuat tisu? Mudah-mudahan tisu tidak dibuat dari kayu hutan!
Lhokseumawe, 23 September 2020
FZ
