Kamis, 18 November 2021

Percakapan Seorang Ibu dengan Anak Laki-lakinya

Percakapan saya (SA) dengan anak muda cilik saya (AM) malam ini 

 AM : Mak, kenapa ayah Aira gak pernah datang ke rumah Aura? Kenapa bisa ada Aira kalua dia gak ada ayahnya? 

Aira adalah tetangga kami, teman sebaya anakku 

Saya menghela nafas, pertanyaan ini dulu pernah ditanyakan, mungkin setahun atau dua tahun lalu, tetapi saya jawab sekedarnya: “ayahnya sedang pergi kerja jauh, gak bisa pulang” saat itu diskusi selesai. 

Kali ini, seiring bertambah usianya, gak mungkin lagi saya berikan jawaban serupa. Berpikir sejenak. 

SA: Aira punya ayah kok, tetapi ayahnya dengan ibunya sudah tidak bersama lagi, sudah cerai 

AM: Kenapa cerai? Seperti saya duga, anak muda saya ini makin penasaran 

SA: Yaa. Mungkin mereka sudah tidak cocok lagi 

AM: kok bisa ya? 

SA: itulah kehidupan, ada masa kadang kita tidak saling cocok lagi jadi harus berpisah 

AM: tapi kok Aira tinggal sama mamaknya, bukan ikut ayahnya aja 

SA: menghela nafas, kalau misalkan mamak dan ayah berpisah, kamu akan ikut siapa? 
Saya lihat wajah AM melesu, agak lama baru dijawab:

AM: Ikut mamak, malas ikut ayah, ayah asyik kerja aja selalu 

Deg! Ingin rasanya menangis keras ya Allah, apakah anakku akan tumbuh besar dan dewasa, tanpa sosok ayah? Memang ayah ada, tetapi tidak pernah ada untuknya. Aku tak ingin apa yang kualami sewaktu kecil: tidak pernah berdekat-dekat dengan ayah, kalau perlu sesuatu dengan ayah harus menunggu lama karena jarang sekali bisa bertemu. Bukan karena ayahku sibuk kerja, tetapi entah kemana ia pergi setiap hari. Ketika aku di rumah sepulang sekolah, ayah belum pulang, pulang ngaji malam hari, ayah belum Nampak. Bangun pagi dan hendak ke sekolah, ayah masih tidur. Entah kapan bisa duduk dan bersenda gurau. Ternyata sampai aku dewasa, ia ada tetapi tiada. Allahummaghfirlahu, meskipun begitu, sosoknya dulu sangat kukagumi. 

Apakah hal serupa akan dialami oleh anakku? Meski tidak sama persis, tetapi saat ini sang ayah pergi jam 7 atau jam 8, pulang jam 6, mandi dan ke mesjid, lalu pulang lagi habis isya atau kadang lebih lama. 

Meskipun ada di rumah, tetapi sibuk dengan pekerjaan di dalam kamar kerja, dan akan keluar ketika anak-anak sudah tidur. Begitupun di akhir pekan, setiap sabtu dan minggu ada kegiatan yang harus ke luar. Anak-anak masih kecil, butuh perhatian dan sosok ayah. 

Tetapi aku, secapek apapun, tetap berusaha membawa mereka jalan atau kemana aja di akhir pekan, meskipun tidak setiap pekan, kuberharap bila usiaku sampai tua, ia masih mau berada di sisiku, meski tidak setiap hari, dan masih mau mengajakku jalan-jalan, meski setahun sekali. 

Pernah ditanya oleh penjual asongan di suatu tempat wisata tak jauh dari rumah: Ayahnya gak ikut, Bu? Setelah melihat anak-anakku sibuk bermain dan berlari,lalu berebut minta dibelikan kacang. 

Aku sempat terkejut, bukan karena pertanyaan itu. Tetapi aku sudah terbiasa kemana aja tanpa ayah anak-anak, dan bahkan tidak pernah berpikir untuk ia ikut serta, karena sudah kujalani bertahun-tahun. 

Tetapi pertanyaan itu, membuatku berpikir, benar, aku bahkan lupa ia ada. 

Kembali ke AM 
Inilah hidup, Nak. Ada orang kehilangan ayahnya karena meninggal, atau bercerai dengan ibunya, tetapi lebih sakit kehilangan ayah tetapi sosoknya antara ada dan tiada. Tetaplah menjadi lelaki tegar ketika dewasa, penuh tanggung jawab, perhatian dengan keluarga, mamak hanya bisa mendokanmu, semoga Allah menjadikan kamu orang memperjuangkan agama Allah, yang sayang keluarga, penuh perhatian pada orangtuamu, dan menjadi pemimpin adil dan tegas, paling tidak untuk keluargamu sendiri. 

 Dari mamak untuk anak laki-laki kecilnya yang sedang tumbuh dewasa.18.Nov.21

Senin, 31 Mei 2021

AYAM KAMPUNG (Bagian 1)

Memelihara ayam kampung sangatlah unik dan gampang-gampang susah. Tapi tidaklah susah-susah amat. Seperti aku, sudah sejak lama memelihara ayam kampung meski tak banyak, sekitar 6-12 ekor saja. Kenapa aku buat dalam range segitu? Pengalamanku, setiap beberapa waktu, ada pandemik yang menyerang ayam. Yaa sekitar dua tahun sekali, kadang setahun sekali. Katanya itu virus flu, atau semacamnya. Ayam-ayam akan mengalami musim penyakit secara tiba-tiba, dan dalam beberapa hari ia akan mati secara mengenaskan, dengan mengelepar-gelepar tanpa sebab, lalu koit. Tetapi selama aku memelihara ayam kampung, jarang sekali disambar penyakit, kata para tetangga, mungkin ayam-ayamku jarang keluar kandang, ia hanya main-main di kawasan rumahku saja….karena rutin aku kasih makan, jadi ia tak perlu bekerja keras untuk cari makan apalagi sampai ke luar negeri..eh maksudku ke luar kandang. Sudahlah…itu bukan hal penting, aku mau cerita hal lain tentang ayam kampung. Fenomena unik adalah, ayam-ayamku rajin bertelur. Saat ini aku memiliki 3 ekor ayam betina, 1 ekor anak ayam menjelang remaja, dan 1 ekor ayam jantan. Ketiga ekor ayam betina rutin bertelur, setelah selesai masa bertelur, dengan kuantitas 14 – 17 butir per ekor ayam, mereka hanya rehat seminggu atau paling lama dua minggu sebelum bertelur lagi. Kalau telur-telur itu kubiarkan dierami, akan perlu waktu lebih lama untuk masa bertelur berikutnya, karena menunggu telur menetas (sekitar 22 hari), ia akan memelihara anak-anaknya sampai siap untuk bisa mencari makan sendiri atau pintar makan sendiri (sekitar 30 hari, bahkan bisa lebih), baru kemudian ia akan bertelur lagi.
Untuk tempat bertelur para betina akan mencari dan memilih tempat paling nyaman dan aman. Aku selalu menyediakan kenyamanan itu di dalam kandang, berupa tempat empuk dan terlindungi dari cahaya matahari, hujan, dan dari kemungkinan predator (musang dan burung elang, exclude diriku sebagai predator otonom). Sebagai contoh, aku menyiapkan kardus bekas mi instan, atau bekas barang lain, ya kira-kira segede itu lah. Di dalamnya kulapisi goni bekas beras, dan di atasnya kain bekas, yang bersih tentunya, supaya ayamnya betah dan tak perlu pakai masker ketika bertelur, atau bisa pingsan. Kain-kain yang kugunakan biasanya pakaian-pakaian yang sudah tak terpakai lagi. Suatu kali, aku mendapati dalam tumpukan kain bekas itu sebuah rok bekas sekolah SD sulungku, yang tak mungkin lagi kuberikan ke orang lain karena restletingnya sudah rusak dan jahitan di bawah rok juga sudah lepas benangnya. Maka kuputuskan kain itu layak untuk pengempuk dudukan ayam bertelur alias springbed ayam. Hari pertama, kupindahkan dua butir telur yang diletakkan di atas karung bekas beras itu ke dalam springbed barunya. Kuyakin ayam akan menyukai suasana barunya. Keesokan harinya kulihat telur sudah bertambah menjadi tiga, tetapi kain berwarna merah itu sudah bergeser, telur-telur sudah tidak lagi di atas kain merah. “ah, lasak juga nih ayam kalau bertelur sampai-sampai springbed berantakan begini,” pikirku. Kurapikan Kembali kain merah, dan telur-telur itu kuletakkan kembali ke atasnya. Keesokan harinya terjadi hal yang sama, telur-telur yang kini sudah empat butir, telah berpindah dari kain merah, kain merah itu telah berantakan ke pinggiran. Kurapikan lagi, begeser lagi esoknya. Akhirnya kain merah kucabut, kuganti kain krem dari baju bekasku. Esoknya, telut-telur sudah menjadi 6, dan springbed tetap rapi, tak berantakan. Fenomena ini kutanyakan pada beberapa tetanggaku, mereka juga punya pengalaman serupa pada bebek peliharaan mereka. Bebek betina menggeser kain merah yang diletakkan sebagai springbed tempat bertelur, dan memilih langsung bertelur di atas tanah. Apakah ayam dan bebek kalian punya karakter benci kain merah? Ayo komen di bawah ya. Oya, gambar di atas ilustrasi saja ya. Lhokseumawe.30Mei2021