Senin, 31 Mei 2021

AYAM KAMPUNG (Bagian 1)

Memelihara ayam kampung sangatlah unik dan gampang-gampang susah. Tapi tidaklah susah-susah amat. Seperti aku, sudah sejak lama memelihara ayam kampung meski tak banyak, sekitar 6-12 ekor saja. Kenapa aku buat dalam range segitu? Pengalamanku, setiap beberapa waktu, ada pandemik yang menyerang ayam. Yaa sekitar dua tahun sekali, kadang setahun sekali. Katanya itu virus flu, atau semacamnya. Ayam-ayam akan mengalami musim penyakit secara tiba-tiba, dan dalam beberapa hari ia akan mati secara mengenaskan, dengan mengelepar-gelepar tanpa sebab, lalu koit. Tetapi selama aku memelihara ayam kampung, jarang sekali disambar penyakit, kata para tetangga, mungkin ayam-ayamku jarang keluar kandang, ia hanya main-main di kawasan rumahku saja….karena rutin aku kasih makan, jadi ia tak perlu bekerja keras untuk cari makan apalagi sampai ke luar negeri..eh maksudku ke luar kandang. Sudahlah…itu bukan hal penting, aku mau cerita hal lain tentang ayam kampung. Fenomena unik adalah, ayam-ayamku rajin bertelur. Saat ini aku memiliki 3 ekor ayam betina, 1 ekor anak ayam menjelang remaja, dan 1 ekor ayam jantan. Ketiga ekor ayam betina rutin bertelur, setelah selesai masa bertelur, dengan kuantitas 14 – 17 butir per ekor ayam, mereka hanya rehat seminggu atau paling lama dua minggu sebelum bertelur lagi. Kalau telur-telur itu kubiarkan dierami, akan perlu waktu lebih lama untuk masa bertelur berikutnya, karena menunggu telur menetas (sekitar 22 hari), ia akan memelihara anak-anaknya sampai siap untuk bisa mencari makan sendiri atau pintar makan sendiri (sekitar 30 hari, bahkan bisa lebih), baru kemudian ia akan bertelur lagi.
Untuk tempat bertelur para betina akan mencari dan memilih tempat paling nyaman dan aman. Aku selalu menyediakan kenyamanan itu di dalam kandang, berupa tempat empuk dan terlindungi dari cahaya matahari, hujan, dan dari kemungkinan predator (musang dan burung elang, exclude diriku sebagai predator otonom). Sebagai contoh, aku menyiapkan kardus bekas mi instan, atau bekas barang lain, ya kira-kira segede itu lah. Di dalamnya kulapisi goni bekas beras, dan di atasnya kain bekas, yang bersih tentunya, supaya ayamnya betah dan tak perlu pakai masker ketika bertelur, atau bisa pingsan. Kain-kain yang kugunakan biasanya pakaian-pakaian yang sudah tak terpakai lagi. Suatu kali, aku mendapati dalam tumpukan kain bekas itu sebuah rok bekas sekolah SD sulungku, yang tak mungkin lagi kuberikan ke orang lain karena restletingnya sudah rusak dan jahitan di bawah rok juga sudah lepas benangnya. Maka kuputuskan kain itu layak untuk pengempuk dudukan ayam bertelur alias springbed ayam. Hari pertama, kupindahkan dua butir telur yang diletakkan di atas karung bekas beras itu ke dalam springbed barunya. Kuyakin ayam akan menyukai suasana barunya. Keesokan harinya kulihat telur sudah bertambah menjadi tiga, tetapi kain berwarna merah itu sudah bergeser, telur-telur sudah tidak lagi di atas kain merah. “ah, lasak juga nih ayam kalau bertelur sampai-sampai springbed berantakan begini,” pikirku. Kurapikan Kembali kain merah, dan telur-telur itu kuletakkan kembali ke atasnya. Keesokan harinya terjadi hal yang sama, telur-telur yang kini sudah empat butir, telah berpindah dari kain merah, kain merah itu telah berantakan ke pinggiran. Kurapikan lagi, begeser lagi esoknya. Akhirnya kain merah kucabut, kuganti kain krem dari baju bekasku. Esoknya, telut-telur sudah menjadi 6, dan springbed tetap rapi, tak berantakan. Fenomena ini kutanyakan pada beberapa tetanggaku, mereka juga punya pengalaman serupa pada bebek peliharaan mereka. Bebek betina menggeser kain merah yang diletakkan sebagai springbed tempat bertelur, dan memilih langsung bertelur di atas tanah. Apakah ayam dan bebek kalian punya karakter benci kain merah? Ayo komen di bawah ya. Oya, gambar di atas ilustrasi saja ya. Lhokseumawe.30Mei2021