Rabu, 27 Maret 2019

BOH KULU TERAKHIR


Zahrafona
*********
Boh kulu menjadi salah satu menu favoritku semenjak menikah. Sebelumnya aku bahkan tak mengenal sayuran ini.  Sebagai  orang kampung, mungkin ibuku pernah memasaknya tetapi tidak begitu popular barangkali sehingga tidak begitu melekat di ingatanku.
Di rumah mertuaku, pohon kulu (bahasa indonesianya disebut kluwih) tumbuh subur menjulang di halaman belakang. Cabangnya banyak, setiap pucuk akan mengeluarkan beberapa buah setiap musim. Musimnya pun tak selangka durian atau rambutan yang booming  hanya setahun sekali. Boh kulu bisa bermusim tiga kali setahun. Sekilas, batang daun dan boh kulu mirip dengan buah sukun, tetapi kulit buah kulu  terdapat rambur seperti rambutan tapi pendek-pendek.
Aku sangat menggemari boh kulu, seperti kukatakan sebelumnya, setelah menikah karena sering disajikan di rumah mertuaku, baik dalam bentuk masakan asam keueng, kari, tauco, maupun peulemak. Paling sering aku memasak asam keueng, karena rasanya yang segar, asam-asam manis alami. Apalagi dimakan di siang hari dilalap dengan terasi, bikin nambah berkali-kali.
Setelah kutelususi di beberapa website, ternyata lumayan banyak postingan resep boh kulu dengan berbagai jenis masakan khas Aceh maupun nusantara, dengan segala ciri khas daerahnya. Ternyata boh kulu adalah sayuran tradisional yang fenomenal.


Di Aceh sendiri, tak banyak anak muda yang mengenal boh kulu ataupun menggemari sayuran ini, hanya orang-orang tua yang tahu betul nikmatnya sayuran yang sekilas mirip nangka muda ini. Tak banyak terlihat pohon ini di mana-mana, mungkin di hutan-hutan tumbuh sendiri, atau pekarangan rumah di kampung-kampung, tentunya tanpa sengaja ditanam dan tak pula perlu dirawat.
Seperti halnya di rumah mertuaku, pohon itu telah ada di halaman belakang rumah, dan sudah besar adanya ketika aku pertama kali datang ke sana. Pohon itu rajin sekali berbuah, para tetangga mertuaku, keluargaku, tetangga rumahku,  sangat menggemarinya, sehingga setiap kali berbuah, aku membawa dalam jumlah banyak untuk dibagi-bagi ke semua orang: orangtuaku, makci-maksikku, dan orang-orang di sekitar rumahku.
Ahad lalu, akhir Maret 2019, batang fenomenal itu telah ditebang karena alasan mengganggu: daun-daunnya yang jatuh ke atap rumah telah membuat atap seng karatan dan bocor, boh kulu yang menimpa atap juga membuat atap peyot dan berlubang yang lama-kelamaan karena air hujan yang tergenang di situ, menjadi penyebab bocornya atap. Akar pohon yang besar menyembul ke permukaan tanah juga telah membuat pagar beton agak terangkat dan diprediksi akan miring atau patah suatu ketika bila tidak ditindak segera.
Mulanya Bapak sempat menyinggung pada kami ketika santai di depan rumah setahun lalu ketika kumpul lebaran tentang pohon kulu yang semakin mengganggu. Tetapi beberapa orang anaknya termasuk aku sebagai menantu menyesali seandainya pohon itu diakhiri.
            “Sayang, Pak, boh kulu itu banyak kali yang suka, kalau ditebang, dari mana lagi kita bisa dapat boh kulu, belum pernah saya lihat ada di tempat orang, kalau pun ada di pasar, pasti yang sudah kurang segar,” kataku.
Kakak dan adik iparku juga tidak setuju dengan keinginan bapak. Akhirnya bapak menunda niatnya. Tapi hari ini, bapak tidak meminta persetujuan siapa-siapa, hanya berdiskusi dengan mamak, dan batang itu langsung dieksekusi di hari Sabtu. Ketika kami (aku dan suami) tiba di sana, batang besar itu telah terkulai di pinggir saluran irigasi belakang rumah, daun-daunnya telah layu ditumpuk di dekat batang dan dibakar perlahan. Sebagian buahnya telah dijual dan mendapatkan uang Rp71rb, untuk satu karung boh kulu yang dihargai Rp1.300 per buah. Sebagian disimpan untuk dibagi-bagi ke tetangga, aku bawa pulang ke rumahku, kakakku, makcik, dan tetanggaku. Ketika menyerahkan boh kulu ke mereka aku hanya bisa berpesan: Ini boh kulu terakhir, nikmatilah, setelahnya kita hanya bisa membayangkannya, karena tak yakin di pasar akan ada buah langka ini.

Lhokseumawe, 28 Maret 2019.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar