Zahrafona
*********
Boh
kulu menjadi salah satu menu favoritku semenjak menikah. Sebelumnya aku bahkan tak
mengenal sayuran ini. Sebagai orang kampung, mungkin ibuku pernah
memasaknya tetapi tidak begitu popular barangkali sehingga tidak begitu melekat
di ingatanku.
Di
rumah mertuaku, pohon kulu (bahasa
indonesianya disebut kluwih) tumbuh subur menjulang di halaman belakang. Cabangnya
banyak, setiap pucuk akan mengeluarkan beberapa buah setiap musim. Musimnya pun tak selangka durian atau rambutan yang booming
hanya setahun sekali. Boh kulu bisa bermusim tiga kali setahun.
Sekilas, batang daun dan boh kulu
mirip dengan buah sukun, tetapi kulit buah
kulu terdapat rambur seperti
rambutan tapi pendek-pendek.
Aku
sangat menggemari boh kulu, seperti
kukatakan sebelumnya, setelah menikah karena sering disajikan di rumah
mertuaku, baik dalam bentuk masakan asam
keueng, kari, tauco, maupun peulemak.
Paling sering aku memasak asam keueng,
karena rasanya yang segar, asam-asam manis alami. Apalagi dimakan di siang hari
dilalap dengan terasi, bikin nambah berkali-kali.
Setelah
kutelususi di beberapa website,
ternyata lumayan banyak postingan resep boh
kulu dengan berbagai jenis masakan khas Aceh maupun nusantara, dengan
segala ciri khas daerahnya. Ternyata boh
kulu adalah sayuran tradisional yang fenomenal.
Di
Aceh sendiri, tak banyak anak muda yang mengenal boh kulu ataupun menggemari sayuran
ini, hanya orang-orang tua yang tahu betul nikmatnya sayuran yang sekilas mirip
nangka muda ini. Tak banyak terlihat pohon ini di mana-mana, mungkin di
hutan-hutan tumbuh sendiri, atau pekarangan rumah di kampung-kampung, tentunya
tanpa sengaja ditanam dan tak pula perlu dirawat.
Seperti
halnya di rumah mertuaku, pohon itu telah ada di halaman belakang rumah, dan
sudah besar adanya ketika aku pertama kali datang ke sana. Pohon itu rajin
sekali berbuah, para tetangga mertuaku, keluargaku, tetangga rumahku, sangat menggemarinya, sehingga setiap kali berbuah,
aku membawa dalam jumlah banyak untuk dibagi-bagi ke semua orang: orangtuaku,
makci-maksikku, dan orang-orang di sekitar rumahku.
Ahad
lalu, akhir Maret 2019, batang fenomenal itu telah ditebang karena alasan
mengganggu: daun-daunnya yang jatuh ke atap rumah telah membuat atap seng karatan
dan bocor, boh kulu yang menimpa atap
juga membuat atap peyot dan berlubang yang lama-kelamaan karena air hujan yang
tergenang di situ, menjadi penyebab bocornya atap. Akar pohon yang besar
menyembul ke permukaan tanah juga telah membuat pagar beton agak terangkat dan
diprediksi akan miring atau patah suatu ketika bila tidak ditindak segera.
Mulanya
Bapak sempat menyinggung pada kami ketika santai di depan rumah setahun lalu
ketika kumpul lebaran tentang pohon kulu yang semakin mengganggu. Tetapi beberapa
orang anaknya termasuk aku sebagai menantu menyesali seandainya pohon itu
diakhiri.
“Sayang, Pak, boh kulu itu banyak kali yang suka, kalau ditebang, dari mana lagi
kita bisa dapat boh kulu, belum
pernah saya lihat ada di tempat orang, kalau pun ada di pasar, pasti yang sudah
kurang segar,” kataku.
Kakak
dan adik iparku juga tidak setuju dengan keinginan bapak. Akhirnya bapak
menunda niatnya. Tapi hari ini, bapak tidak meminta persetujuan siapa-siapa,
hanya berdiskusi dengan mamak, dan batang itu langsung dieksekusi di hari
Sabtu. Ketika kami (aku dan suami) tiba di sana, batang besar itu telah
terkulai di pinggir saluran irigasi belakang rumah, daun-daunnya telah layu
ditumpuk di dekat batang dan dibakar perlahan. Sebagian buahnya telah dijual
dan mendapatkan uang Rp71rb, untuk satu karung boh kulu yang dihargai Rp1.300 per buah. Sebagian disimpan untuk
dibagi-bagi ke tetangga, aku bawa pulang ke rumahku, kakakku, makcik, dan tetanggaku.
Ketika menyerahkan boh kulu ke mereka aku hanya bisa berpesan: Ini boh kulu
terakhir, nikmatilah, setelahnya kita hanya bisa membayangkannya, karena tak
yakin di pasar akan ada buah langka ini.
Lhokseumawe,
28 Maret 2019.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar