*****
Fonna Zahra
Lebaran idul adha kali ini saya menyempatkan diri memanjakan
anak-anak ke Batee- iliek, sebuah tempat wisata fenomenal di daerah
Samalanga-Aceh, yang berjarak tak kurang dari 80 km dari Lhokseumawe. Dari telusuran beberapa sumber, Batee-iliek berasal dari kata "Batee ilee" (Bahasa Aceh) yang bermakna batu dengan air mengalir. Batee iliek sebenarnya salah satu lokasi bersejarah, tempat pertahanan melawan penjajah Belanda sekitar tahun 1880. Lokasi ini ternyata telah masyhur sejak zaman sebelum kemerdekaan.
Bercengkrama
dengan gemerisik air sungai, sambil duduk santai menikmati segelas the hangat
di pinggir sungai nan indah, telah terbayang di pelupuk mata bila mendengan nama Batee-iliek. Bukanlah yang pertama kali saya
mendatanginya, dalam kurun waktu yang cukup lama, telah lebih tiga kali seingat
saya. Terlihat banyak perubahan di setiap kunjungan saya. terutama kepadatan
kedai-kedai di sepanjang dua sisi sungai.
Area parkiran mobil dan motor terpisah, meskipun masih belum
teraspal, sangat lumayan untuk mengistirahatkan kendaraan dengan teratur dan
rapi. Di jalan masuk telah berdiri seorang bapak paruh baya mengutip biaya masuk
yang sudah termasuk biaya parkir kendaraan sebesar 10ribu rupiah untuk mobil
dan 5ribu rupiah untuk sepeda motor. Sangat murah untuk ukuran tempat wisata
seluas itu. Biaya perorang tidak ada sama sekali. Kami berjalan ke arah sungai
yang hanya sekitar 50 meter dari area parkir, mencari tempat duduk yang tepat
menghadap dekat ke sungai supaya bisa mengawasi anak-anak bermain air. Sangat
ramai orang-orang di kedua sisi sungai. Mereka memenuhi seluruh kursi yang
disediakan oleh pemilik kedai. Anak-anak dan sebagian orang dewasa sibuk
bermain dengan air, ada yang sekedar menemani anak-anak bermain atau memang
sengaja mandi dan berenang. Para penjaja ban, ukuran kecil maupun besar dengan
sigap menawarkan ban ke setiap pengunjung yang baru datang, tak terkecuali
saya.
“Siploh ribee mantong, Bu!” (Sepuluh
ribu saja, Bu!) Tawarnya sambil menyodorkan ban yang lebih gede ban dalam mobil
keluarga. Anak saya langsung merengek, tak mau membiarkan ban itu menganggur. Saya
pun tak mungkin menolak, kecuali ingin ricuh akibat amukan anak. Ban bertali
panjang pun berpindah tangan setelah uang sepuluh ribu diterima si bapak.
Dengan riang anak saya berlari ke
pinggir sungai dibantu sepupunya yang lebih tua beberapa tahun dari dia. Merekapun
asyik bermain ke sana kemari, dipermainkan aliran air sungai. Saya menonton
lebih dekat.
Pedagang makanan seperti jagung bakar, sosis dan kentang
putar goreng, pop mie, bahkan membuka lapak tepat di bibir sungai, beberapa
malah menggelar meja dagangan di dalam sungai yang agak memulau beberapa meter
persegi.
Jangan Tanya kondisi badan sungai. Orang-orang bermain air diantara
tongkol jagung yang mengapung, plastik pembungkus makanan, gelas bekas popmie, bekas es krim, dan bahkan popok bayi yang telah menggembung dipenuhi air. Bibir sungai juga
menjadi area menumpuknya sampah-sampah berbagai jenis, kulit jagung menumpuk di sekitaran penjual jagung bakar, sepertinya sungai telah
kewalahan mengalirkannya. Ya Allah… betapa saya tak bisa menahan isak, sesak di
dada, dan air mata menetes perlahan. Saya seperti sayup-sayup mendengar jeritan
sungai bate iliek, merintih kesakitan, kepiluan yang mendalam diantara ratapan
tak berdaya.
“Ampunkan saya wahai manusia, berhentilah mengotori saya
dengan barang-barang yang tak mampu saya uraikan…berhentilah menyakiti saya!”
ratapan itu terus menerus terdengar. Orang-orang sibuk dengan dirinya. Bermain di
dalam air, menggeser ke sana kemari ketika sampah-sampah itu menghampiri
mereka. Seakan para sampah adalah bagian dari mereka, yang ikut berlibur dengan
berenang di dalam sungai di hari raya.
Andai, ada suatu peraturan yang mengikat, diawali dengan
kampanye tentang pentingnya menjaga sungai, yang tentu saja tidak dilakukan
kontinyu bertahun-tahun. Lalu orang-orang terbiasa dengan sungai yang bersih. Dan
pada saat itulah pemerintah lokal membuat suatu peraturan ketat tentang
kewajiban para pedagang, pemilik kedai, di sekitaran sungai, untuk menjaga
sungai. Apabila melanggar, akan diberikan peringatan ringan, peringatan keras,
dan denda…saya yakin sungai Batee-iliek akan tersenyum ceria, tidak akan menjerit,
merintih, atau meratai nasibnya yang malang. Sungai Batee-iliek tidak akan lagi
terjajah oleh sampah, ia akan merdeka seumpama gaung merdeka 17 Agustusan. Setiap
orang akan dengan santai bermain-main di dalam air, bercengkrama denngan
gemericik acir yang melewati bebatuan sungai. Anak-anak akan bergembira
melebihi gembiranya saat ini, tanpa kuatir akan mengalami penyakit kulit seusai
mandi sungai. Dan yang pasti, kalau datang kawan-kawan saya dari luar daerah,
saya akan dengan bangga membawanya ke sini, menunjukkan pesona alami Aceh.
Adakah saat ini yang peduli? Saya hanyalah orang biasa, yang
tidak punya kuasa apa-apa untuk melakukan perubahan ataupun mengatur kondisi Bate-iliek.
Saya hanya punya ide untuk saya tuliskan. Harapan saya, saya yakin harapan semua
orang, Bate-iliek yang telah menjadi keabanggaan warga Aceh dan Samalanga khusunya,
dari jaman dulu, akan bertambah masyhur dengan pesona alam yang tak
tertandingi, karena warganya sangat cinta pada kebersihan sungai ini.
Pengelolaan dengan baik akan
menambah pengunjung, menyehatkan lingkungan, memartabatkan alam, dan manusia dan tentu saja bisa memakmurkan masyarakat setempat oleh
perputaran ekonomi yang lebih cepat. Momen kemerdekaan, selayaknya kita
memerdekakan sungai Batee-iliek dari jajahan sampah. Membuat wajah alam beradab dan bermartabat, karena peradaban suatu bangsa ternyata dapat dinilai salah satunya dari kemampuannya menghargai dan mencintai alam. Mampukah?
Lhokseumawe.17
Agustus2019.


