Sabtu, 17 Agustus 2019

SUNGAI BATEE ILIEK YANG MASIH DIJAJAH SAMPAH


*****
Fonna Zahra

Lebaran idul adha kali ini saya menyempatkan diri memanjakan anak-anak ke Batee- iliek, sebuah tempat wisata fenomenal di daerah Samalanga-Aceh, yang berjarak tak kurang dari 80 km dari Lhokseumawe.  Dari telusuran beberapa sumber, Batee-iliek berasal dari kata "Batee ilee" (Bahasa Aceh) yang bermakna batu dengan air mengalir. Batee iliek sebenarnya salah satu lokasi bersejarah, tempat pertahanan melawan penjajah Belanda sekitar tahun 1880. Lokasi ini ternyata telah masyhur sejak zaman sebelum kemerdekaan.
Bercengkrama dengan gemerisik air sungai, sambil duduk santai menikmati segelas the hangat di pinggir sungai nan indah, telah terbayang di pelupuk  mata bila mendengan nama Batee-iliek. Bukanlah yang pertama kali saya mendatanginya, dalam kurun waktu yang cukup lama, telah lebih tiga kali seingat saya. Terlihat banyak perubahan di setiap kunjungan saya. terutama kepadatan kedai-kedai di sepanjang dua sisi sungai.
Area parkiran mobil dan motor terpisah, meskipun masih belum teraspal, sangat lumayan untuk mengistirahatkan kendaraan dengan teratur dan rapi. Di jalan masuk telah berdiri seorang bapak paruh baya mengutip biaya masuk yang sudah termasuk biaya parkir kendaraan sebesar 10ribu rupiah untuk mobil dan 5ribu rupiah untuk sepeda motor. Sangat murah untuk ukuran tempat wisata seluas itu. Biaya perorang tidak ada sama sekali. Kami berjalan ke arah sungai yang hanya sekitar 50 meter dari area parkir, mencari tempat duduk yang tepat menghadap dekat ke sungai supaya bisa mengawasi anak-anak bermain air. Sangat ramai orang-orang di kedua sisi sungai. Mereka memenuhi seluruh kursi yang disediakan oleh pemilik kedai. Anak-anak dan sebagian orang dewasa sibuk bermain dengan air, ada yang sekedar menemani anak-anak bermain atau memang sengaja mandi dan berenang. Para penjaja ban, ukuran kecil maupun besar dengan sigap menawarkan ban ke setiap pengunjung yang baru datang, tak terkecuali saya.
Siploh ribee mantong, Bu!” (Sepuluh ribu saja, Bu!) Tawarnya sambil menyodorkan ban yang lebih gede ban dalam mobil keluarga. Anak saya langsung merengek, tak mau membiarkan ban itu menganggur. Saya pun tak mungkin menolak, kecuali ingin ricuh akibat amukan anak. Ban bertali panjang pun berpindah tangan setelah uang sepuluh ribu diterima si bapak.
            Dengan riang anak saya berlari ke pinggir sungai dibantu sepupunya yang lebih tua beberapa tahun dari dia. Merekapun asyik bermain ke sana kemari, dipermainkan aliran air sungai. Saya menonton lebih dekat.
Pedagang makanan seperti jagung bakar, sosis dan kentang putar goreng, pop mie, bahkan membuka lapak tepat di bibir sungai, beberapa malah menggelar meja dagangan di dalam sungai yang agak memulau beberapa meter persegi.
Jangan Tanya kondisi badan sungai. Orang-orang bermain air diantara tongkol jagung yang mengapung, plastik pembungkus makanan, gelas bekas popmie, bekas es krim, dan bahkan popok bayi yang telah menggembung dipenuhi air. Bibir sungai juga menjadi area menumpuknya sampah-sampah berbagai jenis, kulit jagung menumpuk di sekitaran penjual jagung bakar, sepertinya sungai telah kewalahan mengalirkannya. Ya Allah… betapa saya tak bisa menahan isak, sesak di dada, dan air mata menetes perlahan. Saya seperti sayup-sayup mendengar jeritan sungai bate iliek, merintih kesakitan, kepiluan yang mendalam diantara ratapan tak berdaya.

“Ampunkan saya wahai manusia, berhentilah mengotori saya dengan barang-barang yang tak mampu saya uraikan…berhentilah menyakiti saya!” ratapan itu terus menerus terdengar. Orang-orang sibuk dengan dirinya. Bermain di dalam air, menggeser ke sana kemari ketika sampah-sampah itu menghampiri mereka. Seakan para sampah adalah bagian dari mereka, yang ikut berlibur dengan berenang di dalam sungai di hari raya.

Andai, ada suatu peraturan yang mengikat, diawali dengan kampanye tentang pentingnya menjaga sungai, yang tentu saja tidak dilakukan kontinyu bertahun-tahun. Lalu orang-orang terbiasa dengan sungai yang bersih. Dan pada saat itulah pemerintah lokal membuat suatu peraturan ketat tentang kewajiban para pedagang, pemilik kedai, di sekitaran sungai, untuk menjaga sungai. Apabila melanggar, akan diberikan peringatan ringan, peringatan keras, dan denda…saya yakin sungai Batee-iliek akan tersenyum ceria, tidak akan menjerit, merintih, atau meratai nasibnya yang malang. Sungai Batee-iliek tidak akan lagi terjajah oleh sampah, ia akan merdeka seumpama gaung merdeka 17 Agustusan. Setiap orang akan dengan santai bermain-main di dalam air, bercengkrama denngan gemericik acir yang melewati bebatuan sungai. Anak-anak akan bergembira melebihi gembiranya saat ini, tanpa kuatir akan mengalami penyakit kulit seusai mandi sungai. Dan yang pasti, kalau datang kawan-kawan saya dari luar daerah, saya akan dengan bangga membawanya ke sini, menunjukkan pesona alami Aceh.
Adakah saat ini yang peduli? Saya hanyalah orang biasa, yang tidak punya kuasa apa-apa untuk melakukan perubahan ataupun mengatur kondisi Bate-iliek. Saya hanya punya ide untuk saya tuliskan. Harapan saya, saya yakin harapan semua orang, Bate-iliek yang telah menjadi keabanggaan warga Aceh dan Samalanga khusunya, dari jaman dulu, akan bertambah masyhur dengan pesona alam yang tak tertandingi, karena warganya sangat cinta pada kebersihan sungai ini.
Pengelolaan dengan baik akan menambah pengunjung, menyehatkan lingkungan, memartabatkan alam, dan manusia dan tentu saja bisa memakmurkan masyarakat setempat oleh perputaran ekonomi yang lebih cepat. Momen kemerdekaan, selayaknya kita memerdekakan sungai Batee-iliek dari jajahan sampah. Membuat wajah alam beradab dan bermartabat, karena peradaban suatu bangsa ternyata dapat dinilai salah satunya dari kemampuannya menghargai dan mencintai alam. Mampukah?


Lhokseumawe.17 Agustus2019.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar