LEMAN
Matahari
masih menggantung dengan cahaya menyembul dari pepucuk pohon jambu halaman
rumahku, ketika aku tergopoh-gopoh keluar setelah mendengar suara suamiku
memanggil. Kutoleh lagi ke belakang memastikan kompor telah kumatikan.
“Dek, ada
tamu!”
Di teras,
seorang anak muda bertubuh tegap, memakai jaket kulit berwarna cokelat tua,
menghampiri takzim, menyalami dan meletakkan punggung tanganku di dahinya,
sebelum sempat aku tarik tanganku. Agak segan rasanya dihormati berlebihan
begini, tetapi itulah kebiasaan pemuda itu selama empat tahun di kampus. Meski
telah berkali-kali aku mengatakan bahwa tidak perlu mencium tangan, salaman pun
cukup menangkupkan kedua telapak tangan sejajar dada, sudah oke. Apalagi dalam
era covid-19 begini.
“Bu, apa
kabar?” tanyanya setelah kupersilakan duduk di kursi teras.
Suamiku
masih sibuk dengan urusannya di halaman depan, menyiapkan kelapa untuk dibawa
ke pasar- kukur dan peras sekalian. Kami sudah beberapa minggu memproduksi VCO-
“Alhamdulillah,
sehat walafiat, kamu apa kabar? Kerja apa sekarang?”
“Sehat
juga bu. Masih mengurus usaha orang tua saya, usaha kulit sapi.”
“Wah, mantap juga masih konsisten
di kulit sapi,” kataku sambil tersenyum. Anak ini sewaktu tugas akhir juga
mengangkat penelitian tentang pengawetan kulit sapi, selesai kuliah sempat
honor di kampus sebagai tenaga administasi, kemudian setahuku menlanjutkan S2.
“Maaf bu
sebelumnya, saya mendadak ke sini, ada perlu sedikit dengan ibu.”
Dia
berhenti sejenak, menarik nafas. Kulihat bulir0bulir keringat memenuhi dahinya.
Kutatap jaket kulit itu, apa ia kepanasan gara-gara jaket? Atau ia jalan kaki
tadi dari jalan raya ke rumahku yang berjarak sekitar 300 meter ini? Karena
kutelisik ke depan rumah dan jalanan depan rumah taka da tanda-tanda ada
kendaraan bermotor apapun yang
terparkir.
“Saya mau
pinjam uang sama ibu, lima ratus ribu saja, untuk orngkos saya ke Medan, saya
mau ke sana untuk kerja, ada kawan yang nawari saya kerja.” Lanjutnya.
“Ke
Medan? Sekaran kan lagi musim korona, Medan kan zona merah, emang boleh ke
sana?”
“Bisa bu,
kawan saya ada di sana ngajak saya kerja.”
Kutatap
wajah di depanku, ia sibuk mengelap keringat dengan punggung tangannya,
mulutnya gemetar setiap berbicara, matanya agak merah seperti orang habis
menangis, butir-butir keringat di kulit wajahnya terus keluar.
“Tapi ibu
gak punya uang sebanyak itu, kalau kamu punya rekening bisa ibu transfer,”
membunuh rasa was was dalam hati. Ia anak yang baik dan jujur selama kuliah.
Aku menjadi penguji pada sidang tugas akhirnya, meskipun begitu, aku seakan-akan
pembimbingnya, karena ia sering konsultasi masalah penelitiannya dan penulisan
tugas akhir itu denganku setiap ada masalah apapun. Di situlah aku tahu ia anak
yang rajin, ulet, sabar, dan pantang menyerah.
***
Suatu
kali usai sidang tugas akhir, masih dalam masa perbaikan, ia datang ke rumah
sekitar 15.30. Aku yang baru tiba dari kampus pukul 15.00 segera terlelap
karena sedang kondisi kurang sehat, apalagi usai menguji beberapa orang di
sidang hari itu. Wawak memanggilku dan mengatakan ada orang nunggu di depan,
aku bilang, kalau mahasiswa besok aja ketemu di kampus, aku sangat lelah dan
mengantuk, gak sanggup bangun.
Azan asar
aku terbangun untuk salat, usai salat aku masih rebahan karena tulang-tulangku
seperti mau remuk, kecapean.
Hampir
pukul lima sore aku keluar untuk menghirup udara segar. Aku terkejut melihat di
teras masih ada dia dengan tas punggung dan buku tugas akhir di pangkuannya.
“Astaghfirullah…kamu
masih di sini?”
“Iya, Bu,
maaf, saya nunggu ibu aja daripada harus pulang, gak masalah bu saya bisa
konsultasi sekarang? Apa ibu udah baikan?”
Aku
mengelus dada, berdoa pada Allah semoga anak ini dimudahkan rezekinya,
dilancarakan urusannya.
***
Kembali
ke masalah tadi.
“Tapi bu
saya tidak punya rekening bank. Kalau gak gini aja, seberapa ada aja bu untuk
saya pinjam.”
“Paling
ada lima puluh ini, karena saya gak simpan uang cash.”
“Boleh
juga, Bu” katanya menyimpan raut kecewa.
Hatiku
trenyuh, masih teringat bagaimmana ia dulu duduk di teras ini menungguku bangun
tidur, karena untuk pulang yang harus jalan kaki, jauh. Tapi seandainya pun ia
telah ‘membohongiku’ aku ikhlas dengan uang yang aku berikan. Ya Allah, ampuni
anak ini seandainya pun ia berbohong.
Aku ke
kamar, menelisik lembaran-lembaran biru, kebetulan dalam dompet hasil penjualan
VCO ada 3 lembar, aku berikan padanya, meski ia tadi menyebut ‘50juga boleh”.
Ampuni anak ini ya Allah andaikan ia telah berubah, tidak seperti dulu.
Ia
pamit setelah menerima uang. Dan kembali menyalami dan meletakkan punggung
tanganku di dahinya sambil menunduk takzim.
“Saya
akan kembalikan uang ibu nanti kalau saya sudah pulang dari Medan,” katanya
sambil berbalik ke arahku, setelah beberapa langkah berlalu dari teras.
Aku
mengangguk, memandanginya yang terus melangkah cepat dan menghilang dari balik
pagar.
“Siapa?”
Tanya suamiku, “kok sikapnya aneh gitu,” sambungnya.
“Alumni
di kampus, entahlah Bang, dulu ia anak yang jujur, makanya saya kasih aja
pinjam uang, kasihan dia.”
Taka
da komentar lagi dari suamiku, kutahu ia kurang puas dengan jawaban ini, tetapi
aku tak ingin melanjutkan membahasnya. Biarlah seperti yang kukatakan
sebelumnya, andai ia bohong, ampuni ia.
***
“Kalau
datang orang ini ke rumah kalian, jangan berikan uang ya. Orang ini tidak ada
kaitan sama sekali dengan saya, dan tidak pernah saya memintanya untuk meminjam
uang pada siapapun,” sebuah tulisan di wa grup di atasnya sebuah foto laki-laki
muda berbaju biru terang. Ku’zoom’ wajahnya, tidak begitu jelas siapa yang
dimaksud.
Karena
wajahnya kurang jelas, saya membalas, “Siapa orang tu, bang?”
“Leman,
alumni tahun 2016”
Tuing!
Aku
menghubungi seorang kawan yang merupakan staf administrasi, beliau dulu
bertugas di Jurusan ku mengajar, saat ini sudah dipindahkan ke divisi lain.
Beliau terkenal dekat dengan mahasiswa, mengetahui hampir semua permasalahan
mahasiswa, terutama siapa saja yang morat-marit keuangannya ketika kuliah. Dan di
leman ini sempat menangis tersedu-sedu ketika beliau memberikan uang untuk
biaya kuliahnya, setelah ia mengadu kesulitan membayar SPP.
“Oh ya?
Kakak juga dapat info kalau dia datang ke Komplek Mutiara, ke rumah seorang dosen. Ia meminta pinjam uang karena disuruh Pak TR, ia sekarang kerja dengan pak TR, kalau sudah gajian nanti dikembalikan, ufhh.”
Kata Kak Rara setelah aku ceritakan perihal Leman ke rumah. “Kasihan
kita ya, anak yang santun, baik, dan rajin ketika kuliah dulu, sekarang jadi
begini. Kata kawannya ia stress, depresi gitu.
“Ia kak,
saya juga lihatnya begitu, raut wajahnya kayak depresi, masalah kelauarga
kayaknya, kita doakan saja ia bisa menyelesaikan masalahnya,” sambungku.
Hidup ini
penuh cobaan, dan cobaan itu semakin berat seiring dengan keadaan sekarang yang
sulit sekali mencari pekerjaan. Tak akan bertahan hidup kita apabila segalanya
kita mengukur dengan materi. Allah memberikan kita rezeki pada jalan yang tidak
disangka-sangka bila kita maksimal ikhtiar, dan maksimal berserah diri pada-Nya.
Rezeki bukan melulu materi, tetapi juga kesehatan jiwa raga, kemampuan melewati
setiap masalah dan cobaan hidup.
Lhokseumawe,
Juli 2020