Minggu, 19 Juli 2020

LEMAN


LEMAN
Matahari masih menggantung dengan cahaya menyembul dari pepucuk pohon jambu halaman rumahku, ketika aku tergopoh-gopoh keluar setelah mendengar suara suamiku memanggil. Kutoleh lagi ke belakang memastikan kompor telah kumatikan.
“Dek, ada tamu!”
Di teras, seorang anak muda bertubuh tegap, memakai jaket kulit berwarna cokelat tua, menghampiri takzim, menyalami dan meletakkan punggung tanganku di dahinya, sebelum sempat aku tarik tanganku. Agak segan rasanya dihormati berlebihan begini, tetapi itulah kebiasaan pemuda itu selama empat tahun di kampus. Meski telah berkali-kali aku mengatakan bahwa tidak perlu mencium tangan, salaman pun cukup menangkupkan kedua telapak tangan sejajar dada, sudah oke. Apalagi dalam era covid-19 begini.
“Bu, apa kabar?” tanyanya setelah kupersilakan duduk di kursi teras.
Suamiku masih sibuk dengan urusannya di halaman depan, menyiapkan kelapa untuk dibawa ke pasar- kukur dan peras sekalian. Kami sudah beberapa minggu memproduksi VCO-
“Alhamdulillah, sehat walafiat, kamu apa kabar? Kerja apa sekarang?”
“Sehat juga bu. Masih mengurus usaha orang tua saya, usaha kulit sapi.”
“Wah, mantap juga masih konsisten di kulit sapi,” kataku sambil tersenyum. Anak ini sewaktu tugas akhir juga mengangkat penelitian tentang pengawetan kulit sapi, selesai kuliah sempat honor di kampus sebagai tenaga administasi, kemudian setahuku menlanjutkan S2.
“Maaf bu sebelumnya, saya mendadak ke sini, ada perlu sedikit dengan ibu.”
Dia berhenti sejenak, menarik nafas. Kulihat bulir0bulir keringat memenuhi dahinya. Kutatap jaket kulit itu, apa ia kepanasan gara-gara jaket? Atau ia jalan kaki tadi dari jalan raya ke rumahku yang berjarak sekitar 300 meter ini? Karena kutelisik ke depan rumah dan jalanan depan rumah taka da tanda-tanda ada kendaraan  bermotor apapun yang terparkir.
“Saya mau pinjam uang sama ibu, lima ratus ribu saja, untuk orngkos saya ke Medan, saya mau ke sana untuk kerja, ada kawan yang nawari saya kerja.” Lanjutnya.
“Ke Medan? Sekaran kan lagi musim korona, Medan kan zona merah, emang boleh ke sana?”
“Bisa bu, kawan saya ada di sana ngajak saya kerja.”
Kutatap wajah di depanku, ia sibuk mengelap keringat dengan punggung tangannya, mulutnya gemetar setiap berbicara, matanya agak merah seperti orang habis menangis, butir-butir keringat di kulit wajahnya terus keluar.
“Tapi ibu gak punya uang sebanyak itu, kalau kamu punya rekening bisa ibu transfer,” membunuh rasa was was dalam hati. Ia anak yang baik dan jujur selama kuliah. Aku menjadi penguji pada sidang tugas akhirnya, meskipun begitu, aku seakan-akan pembimbingnya, karena ia sering konsultasi masalah penelitiannya dan penulisan tugas akhir itu denganku setiap ada masalah apapun. Di situlah aku tahu ia anak yang rajin, ulet, sabar, dan pantang menyerah.
***
Suatu kali usai sidang tugas akhir, masih dalam masa perbaikan, ia datang ke rumah sekitar 15.30. Aku yang baru tiba dari kampus pukul 15.00 segera terlelap karena sedang kondisi kurang sehat, apalagi usai menguji beberapa orang di sidang hari itu. Wawak memanggilku dan mengatakan ada orang nunggu di depan, aku bilang, kalau mahasiswa besok aja ketemu di kampus, aku sangat lelah dan mengantuk, gak sanggup bangun.
Azan asar aku terbangun untuk salat, usai salat aku masih rebahan karena tulang-tulangku seperti mau remuk, kecapean.
Hampir pukul lima sore aku keluar untuk menghirup udara segar. Aku terkejut melihat di teras masih ada dia dengan tas punggung dan buku tugas akhir di pangkuannya.
“Astaghfirullah…kamu masih di sini?”
“Iya, Bu, maaf, saya nunggu ibu aja daripada harus pulang, gak masalah bu saya bisa konsultasi sekarang? Apa ibu udah baikan?”
Aku mengelus dada, berdoa pada Allah semoga anak ini dimudahkan rezekinya, dilancarakan urusannya.
***
Kembali ke masalah tadi.
“Tapi bu saya tidak punya rekening bank. Kalau gak gini aja, seberapa ada aja bu untuk saya pinjam.”
“Paling ada lima puluh ini, karena saya gak simpan uang cash.”
“Boleh juga, Bu” katanya menyimpan raut kecewa.
Hatiku trenyuh, masih teringat bagaimmana ia dulu duduk di teras ini menungguku bangun tidur, karena untuk pulang yang harus jalan kaki, jauh. Tapi seandainya pun ia telah ‘membohongiku’ aku ikhlas dengan uang yang aku berikan. Ya Allah, ampuni anak ini seandainya pun ia berbohong.
Aku ke kamar, menelisik lembaran-lembaran biru, kebetulan dalam dompet hasil penjualan VCO ada 3 lembar, aku berikan padanya, meski ia tadi menyebut ‘50juga boleh”. Ampuni anak ini ya Allah andaikan ia telah berubah, tidak seperti dulu.
Ia pamit setelah menerima uang. Dan kembali menyalami dan meletakkan punggung tanganku di dahinya sambil menunduk takzim.
“Saya akan kembalikan uang ibu nanti kalau saya sudah pulang dari Medan,” katanya sambil berbalik ke arahku, setelah beberapa langkah berlalu dari teras.
Aku mengangguk, memandanginya yang terus melangkah cepat dan menghilang dari balik pagar.
“Siapa?” Tanya suamiku, “kok sikapnya aneh gitu,” sambungnya.
“Alumni di kampus, entahlah Bang, dulu ia anak yang jujur, makanya saya kasih aja pinjam uang, kasihan dia.”
Taka da komentar lagi dari suamiku, kutahu ia kurang puas dengan jawaban ini, tetapi aku tak ingin melanjutkan membahasnya. Biarlah seperti yang kukatakan sebelumnya, andai ia bohong, ampuni ia.
***
“Kalau datang orang ini ke rumah kalian, jangan berikan uang ya. Orang ini tidak ada kaitan sama sekali dengan saya, dan tidak pernah saya memintanya untuk meminjam uang pada siapapun,” sebuah tulisan di wa grup di atasnya sebuah foto laki-laki muda berbaju biru terang. Ku’zoom’ wajahnya, tidak begitu jelas siapa yang dimaksud.
Karena wajahnya kurang jelas, saya membalas, “Siapa orang tu, bang?”
“Leman, alumni tahun 2016”
Tuing!
Aku menghubungi seorang kawan yang merupakan staf administrasi, beliau dulu bertugas di Jurusan ku mengajar, saat ini sudah dipindahkan ke divisi lain. Beliau terkenal dekat dengan mahasiswa, mengetahui hampir semua permasalahan mahasiswa, terutama siapa saja yang morat-marit keuangannya ketika kuliah. Dan di leman ini sempat menangis tersedu-sedu ketika beliau memberikan uang untuk biaya kuliahnya, setelah ia mengadu kesulitan membayar SPP.
“Oh ya? Kakak juga dapat info kalau dia datang ke Komplek Mutiara, ke rumah seorang dosen. Ia meminta pinjam uang karena disuruh Pak TR, ia sekarang kerja dengan pak TR, kalau sudah gajian nanti dikembalikan, ufhh.” Kata Kak Rara setelah aku ceritakan perihal Leman ke rumah. “Kasihan kita ya, anak yang santun, baik, dan rajin ketika kuliah dulu, sekarang jadi begini. Kata kawannya ia stress, depresi gitu.
“Ia kak, saya juga lihatnya begitu, raut wajahnya kayak depresi, masalah kelauarga kayaknya, kita doakan saja ia bisa menyelesaikan masalahnya,” sambungku.
Hidup ini penuh cobaan, dan cobaan itu semakin berat seiring dengan keadaan sekarang yang sulit sekali mencari pekerjaan. Tak akan bertahan hidup kita apabila segalanya kita mengukur dengan materi. Allah memberikan kita rezeki pada jalan yang tidak disangka-sangka bila kita maksimal ikhtiar, dan maksimal berserah diri pada-Nya. Rezeki bukan melulu materi, tetapi juga kesehatan jiwa raga, kemampuan melewati setiap masalah dan cobaan hidup.
Lhokseumawe, Juli 2020



Tidak ada komentar:

Posting Komentar