Zahra Fona
Panas sinar matahari mendadak berubah sejuk ketika saya tiba di Mercer Botanical Garden menjelang siang, hijaunya pemandangan dan teduhnya pepohonan menyaring sinar itu sebelum hawanya sampai ke tanah. Ceritanya, kebun bunga ini adalah dulunya milik seorang bernama Thelma Loraine Mercer (1902-2000) dan suaminya Charles yang senang berkebun dan menanam bunga di rumahnya.
Areanya sangat luas (awalnya 14,5 acre = 5,87 ha =58.679 m2) dan semuanya berisi berbagai jenis tanaman dan bunga dengan penataan yang sangat apik dan artistik. Nah, si Mercer ini menyerahkan tamannya untuk dikelola oleh country dan terbuka untuk umum, dan diberi nama Mercer Arboretum & Botanical Garden pada 8 Januari 1974 . Setiap orang boleh masuk ke taman ini tanpa tiket alias gratis. Pada musim semi, jumlah tanaman dan bunga akan sangat banyak, kebanyakan jenis tanaman cenderung tropis dan sub tropis karena temperatur udara di texas yang tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin pada musim dinginnya. Jadi jangan cari tulip ke sini, hehe.
Karena saya datang ke sana pada musim gugur, bunga-bunganya tidak terlalu banyak. Jadi, bagi yang hendak menikmati berbagai jenis dan aneka rupa bunga sebaiknya datang pada musim semi, sekitar Maret, anda dijamin akan sangat betah di sana menelusuri setiap bagian sampai lupa waktu. Penataan taman ini disesuaikan dengan tema in current time. Akhir bulan Oktober identik dengan perayaan haloween, sehingga di pintu masuk sudah berdiri boneka orang-orangan di atas rumput, yang diberi pakaian kayak orang-orangan sawah yang bertuliskan selamat datang. Lalu beberapa meter dari pintu masuk berbelok ke kiri, berdiri banyak boneka-boneka orang-orangan serupa dengan berbagai bentuk, model pakaian, dan aneka pose, beberapa jenis dan bentuk labu tergeletak di sekitaran boneka. Tertulis Scarecrow Contest di papan kecil di samping setiap orang-orangan. Papan pamplet itu berisi nama si orang-orangan dan terdapat hologram yang bisa kita scan untuk menvote mana orang-orangan yang kita sukai, heheh…ada-ada saja ya.
Lanjut lebih jauh ke dalam, menaiki beberapa anak tangga ke atas, terdapat bangku kayu panjang biasa yang terdapat nama di sandarannya. Rupanya orang-orang di sini menyumbang bangku itu sebagai memorial untuk anggota keluarganya yang telah tiada. Pohon-pohon teduh melindungi, sehingga terasa udaranya sangat nyaman dan sejuk. Turun dari bukit kecil, saya melihat sungai sekitar 15 meter lebarnya dengan airnya berwarna coklat mengalir perlahan di bawah sana. Sungai dengan kondisi alamiah seadanya ini mengingatkan pada sungai di tempat saya di Aceh. Bedanya, sungai di sini terlihat biasa saja, tetapi tetap indah dan ingin terus memandang. Sementara sungai di Aceh jauh lebih indah, tetapi tak hendak memandang lama-lama. Karena pada setiap area pinggir dan dalam sungai dipenuhi berbagai plastik bekas, botol mineral, dan berbagai sampah plastik lainnya, sungguh menyedihkan. Di sini, meskipun pengunjung taman ini lumayan banyak, tidak ada seorang pun yang membuang sampah sembarangan. Tak salah beberapa orang ketika di masjid istiqlal, dan Mbak Nunuk yang menemani saya di Botanical Garden ini menyampaikan kalimat yang sama; orang Amerika ini sebenarnya attitudenya sangat Islami, mereka taat aturan, mereka tidak suka mengganggu orang lain, mereka sangat menjaga kebersihan, sangat menghargai dan mencintai lingkungan, tidak merokok sembarangan, dan benar-benar bertanggung jawab, hanya satu langkah lagi, syahadah yang membatasi antara islam dengan kafir.
Lanjut lebih jauh ke dalam, menaiki beberapa anak tangga ke atas, terdapat bangku kayu panjang biasa yang terdapat nama di sandarannya. Rupanya orang-orang di sini menyumbang bangku itu sebagai memorial untuk anggota keluarganya yang telah tiada. Pohon-pohon teduh melindungi, sehingga terasa udaranya sangat nyaman dan sejuk. Turun dari bukit kecil, saya melihat sungai sekitar 15 meter lebarnya dengan airnya berwarna coklat mengalir perlahan di bawah sana. Sungai dengan kondisi alamiah seadanya ini mengingatkan pada sungai di tempat saya di Aceh. Bedanya, sungai di sini terlihat biasa saja, tetapi tetap indah dan ingin terus memandang. Sementara sungai di Aceh jauh lebih indah, tetapi tak hendak memandang lama-lama. Karena pada setiap area pinggir dan dalam sungai dipenuhi berbagai plastik bekas, botol mineral, dan berbagai sampah plastik lainnya, sungguh menyedihkan. Di sini, meskipun pengunjung taman ini lumayan banyak, tidak ada seorang pun yang membuang sampah sembarangan. Tak salah beberapa orang ketika di masjid istiqlal, dan Mbak Nunuk yang menemani saya di Botanical Garden ini menyampaikan kalimat yang sama; orang Amerika ini sebenarnya attitudenya sangat Islami, mereka taat aturan, mereka tidak suka mengganggu orang lain, mereka sangat menjaga kebersihan, sangat menghargai dan mencintai lingkungan, tidak merokok sembarangan, dan benar-benar bertanggung jawab, hanya satu langkah lagi, syahadah yang membatasi antara islam dengan kafir.
Bertolak belakang dengan karakter umum orang Indonesia, meskipun tidak semuanya, rata-rata suka buang sampah sembarangan, kalau dikasih tahu malah marah-marah. Merokok sembarangan, kalau dikasih tahu juga marah-marah, malah ada ustadz yang merokok di dalam masjid, sambilan mengajar mengaji pula, astaghfirullah. Tidak ada area di sepanjang jalan, sepanjang sungai, sepanjang pantai, yang tidak ada sampah plastik, sungguh miris. Dan lebih banyak area penuh asap rokok, dibandingkan area bebas asap rokok.
Nah, meskipun fall seasons saya di situ, Alhamdulillah masih bisa melihat aneka jenis bunga, yang beberapa umum ada di Indonesia. Ada lagi yang unik, di sini disiapkan taman yang menjadi habitat kupu-kupu jenis Monarch (Danaus plexippus), dalam bahasa Indonesia disebut kupu-kupu raja. Mereka memakan tanaman perdu tahunan Asclepias L, yang beracun bagi sebagian hewan. Di dalam tubuh kupu-kupu ini, senyawa kimia dari tanaman tersebut menjadi pertahanan dirinya sehingga hewan lain tidak akan memangksanya. Sayap kupu-kupu ini berwarna coklat terang agak oranye dengan garis-garis hitam dan bintik-bintik putih di kedua ujung bagian depan.
Pada musim tertentu mereka bermigrasi dari North Amerika, dari wilayah Kanada ke Mexico, ribuan kupu-kupu, dan itu terjadi setiap tahun, subhanallah. Jaraknya bisa 4.500 km lho dengan kecepatan tempuh mereka bisa 80 km/hari. Populasi kupu-kupu ini tiba di Mexico pada awal November dan tinggal di wilayah hutan cemara Michoacan hingga Februari.
Di Botanical Garden, kupu-kupu Monarch hanya beberapa ekor saja. Nah, saya sempat memfoto kupu-kupu tersebut, serta ulatnya juga yang kebetulan terlihat oleh saya. Menunggunya mengepak sayap. Sungguh aneh, sangat jinak, ia tidak bergeming ketika kamera saya semakin mendekatinya dengan jarak beberapa centimeter saja, dan menunggunya mengepak sayap untuk saya abadikan. Benar rupanya, kupu-kupu ini sudah terbiasa berpose, ia sadar betul bahwa ia sangat dilindungi. Dan ia berkuasa sebagai kupu-kupu Raja. Ehm.
The Woodland.28.10.2018. Thanks a lot Mbak Nunuk and Mbak Wieke.Saya tulis ketika Mbak Wieke sedang masak makan siang yang sangat lezat 





Tidak ada komentar:
Posting Komentar