Senin, 29 Oktober 2018

QUINCEAÑERA: PERAYAAN ULANG TAHUN KE-15 GADIS MEXICO


Zahra Fona
Tulisan ini adalah jilid duanya ‘Mercer Botanical Garden’ yang saya tulis sebelumnya, karena merupakan bagian dari apa yang saya lihat di taman itu. Botanical garden identik dengan keadaan nyaman, aman, dan sebuah titik awal menuju kematangan. Ketika saya berkesempatan ke sana, banyak hal yang saya lihat, mulai dari kisah orang kaya yang menyerahkan tamannya menjadi milik umum, aneka tanaman dan bunga, kupu-kupu raja. Singkatnya, botanical garden adalah sebuah fase yang melingkupi tahap-tahap kehidupan yang mengajarkan sebuah sifat memberi yang terbaik disertai keihklasan untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik.

Houston berbatasan langsung dengan Mexico, karenanya banyak sekali penduduk Houston merupakan orang Mexico. Di taman Botanical Garden (BG) ini, banyak terlihat orang-orang Mexico berkeliaran, sekedar berjalan-jalan, menghirup udara segar, mengamati berbagai tetumbuhan dan bunga. Pun di hotel tempat saya tinggal, sebagian besar petugas mulai dari resepsionis, koki, dan cleaning service, adalah orang Mexico.
Di Botanical Garden, yang juga sangat menarik perhatian saya adalah gadis berpakaian ala pengantin, seperti baju Slowyer-orang Aceh bilang, berjalan ditemani beberapa orang dewasa, dan beberapa anak-anak. Awalnya saya kira ada acara foto prewed atau malah acara pesta perkawinan, semakin mendekati sasaran,
“Kok pengantinnya masih anak-anak ya?” Pikir saya, melihat wajah si ‘pengantin’ yang muda belia.
Mbak Nunuk yang menemani saya langsung menjelaskan: itu acara pesta ulang tahun ke-15 gadis Mexico. Pada ulang tahun, ke-15, si gadis merayakan pesta yang paling meriah yang disebut Quinceañera. Setelah pesta, biasanya dibawa berjalan-jalan ke suatu tempat dengan memakai pakaian seperti pengantin, ditemani keluarga dekatnya, orangtua, adek atau kakaknya, sepupunya dan teman-temannya, seperti ke taman untuk berfoto.

            Quinceañera berasal dari bahasa Spanyol quince yang berarti lima belas, dan años bermakna tahun. Pesta adat tradisional ini diadakan untuk memperingati sebuah fase pertumbuhan dari perempuan kecil menjadi wanita dewasa yang sudah dapat bertanggung jawab pada dirinya dan masyarakat. Perayaan ini biasanya dilakukan dengan beberapa tahap, pertama melakukan misa di gereja, kemudian melakukan resepsi. Kadang-kadang para orangtua menyiapkan resepsi di rumah, restoran, atau taman terbuka. Tak jarang juga acara makan-makannya di restoran, tetapi dilanjutkan dengan sesi foto-foto di taman. Sang gadis tetap memakai gaun pesta seperti gaun pengantin.
Pada saat acara, si gadis didampingi seorang ‘pendamping’ yang dipilihnya, yaitu seorang pemuda, yang menemani si gadis sampai pesta selesai. Acara ini juga dilengkapi dengan 14 pasangan pemuda-pemudi lainnya, yang biasanya teman-teman atau anggota keluarganya, yang  akan menari bersama-sama pada acara tersebut.
Tradisi ini awal mulanya berasal dari Mexico dan Amerika Tengah, saat ini sudah lazim dirayakan di berbagai negara bagian Amerika, dan saya baca beberapa informasi, sudah mulai merambah ke Indonesia. Semoga saja, yang diambil adalah nilai positifnya. Karena perayaan semacam ini tentu saja menghabiskan sangat besar dana dan waktu. Nilai positifnya adalah, perhatian keluarga terhadap seorang anak gadis yang menginjak dewasa, sangat penting untuk menumbuhkan nilai positif dan kepercayaan dirinya, agar eksistensinya dalam masyarakat terlihat untuk memberikan kontribusi, baik pikiran dan tenaga untuk kegiatan dalam masyarakat. Si gadis juga akan merasa diperhatikan dan keberadaannya sangat diperlukan untuk kemajuan daerah dan negaranya, mudah-mudahan.
          Dalam Islam, usia 15 tahun bisa jadi merupakan rata-rata usia akil baliq bagi seorang perempuan, dengan datangnya haidh pertama pertanda organ repoduksi telah sempurna. Meskipun itu relatif, ada yang mendapatkan haidh pertama di usia 9 tahun atau bahkan 16 tahun. Ketika telah mendapatkan ‘tanda’ dewasa, si perempuan kecil telah menjadi wanita dewasa yang wajib melaksanakan segala ajaran Islam dengan hukum-hukumnya, seperti: salat lima waktu, puasa, zakat, dan haji bagi yang mampu. Auratnya tidak boleh dilihat orang selain mahramnya. Semua perilaku akan diperhitungan mulai di usia aqil baliq, di hadapan manusia maupun di hadapan Allah SWT.
Setiap daerah dan negara memiliki ciri khas, tergantung pada wisdom, adat istiadat, dan agama yang dianut. Mempelajari adat negara lain adalah sebuah pengetahuan, yang menjadi pemicu kita untuk lebih menghargai adat dan kebiasaan kita sendiri, bukan untuk merubah diri untuk melaksanakan adat mereka bukan? Mengutip prinsip bangsa Jepang dari film ‘The Last samurai’ bahwa kemanapun kita pergi, di manapun kita berada, dan dengan siapapun kita berteman, jangan pernah kita melupakan dari mana kita berasal.


Houston.29.10.2018. Thanks Ida atas tambahan idenya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar