Zahra Fona
Tulisan ini adalah jilid
duanya ‘Mercer Botanical Garden’ yang saya tulis sebelumnya, karena merupakan
bagian dari apa yang saya lihat di taman itu. Botanical garden identik dengan
keadaan nyaman, aman, dan sebuah titik awal menuju kematangan. Ketika saya berkesempatan
ke sana, banyak hal yang saya lihat, mulai dari kisah orang kaya yang
menyerahkan tamannya menjadi milik umum, aneka tanaman dan bunga, kupu-kupu
raja. Singkatnya, botanical garden adalah sebuah fase yang melingkupi
tahap-tahap kehidupan yang mengajarkan sebuah sifat memberi yang terbaik
disertai keihklasan untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik.
Houston berbatasan
langsung dengan Mexico, karenanya banyak sekali penduduk Houston merupakan
orang Mexico. Di taman Botanical Garden (BG) ini, banyak terlihat orang-orang Mexico
berkeliaran, sekedar berjalan-jalan, menghirup udara segar, mengamati berbagai
tetumbuhan dan bunga. Pun di hotel tempat saya tinggal, sebagian besar petugas mulai dari resepsionis, koki, dan cleaning service, adalah orang Mexico.
Di Botanical Garden, yang juga
sangat menarik perhatian saya adalah gadis berpakaian ala pengantin, seperti
baju Slowyer-orang Aceh bilang,
berjalan ditemani beberapa orang dewasa, dan beberapa anak-anak. Awalnya saya
kira ada acara foto prewed atau malah
acara pesta perkawinan, semakin mendekati sasaran,
“Kok
pengantinnya masih anak-anak ya?” Pikir saya, melihat wajah si ‘pengantin’ yang
muda belia.
Mbak
Nunuk yang menemani saya langsung menjelaskan: itu acara pesta ulang tahun
ke-15 gadis Mexico. Pada ulang tahun, ke-15, si gadis merayakan pesta yang
paling meriah yang disebut Quinceañera. Setelah pesta, biasanya dibawa
berjalan-jalan ke suatu tempat dengan memakai pakaian seperti pengantin,
ditemani keluarga dekatnya, orangtua, adek atau kakaknya, sepupunya dan
teman-temannya, seperti ke taman untuk berfoto.
Quinceañera berasal dari bahasa Spanyol quince yang berarti lima belas, dan años bermakna tahun. Pesta
adat tradisional ini diadakan untuk memperingati sebuah fase pertumbuhan dari
perempuan kecil menjadi wanita dewasa yang sudah dapat bertanggung jawab pada
dirinya dan masyarakat. Perayaan ini biasanya dilakukan dengan beberapa tahap,
pertama melakukan misa di gereja, kemudian melakukan resepsi. Kadang-kadang
para orangtua menyiapkan resepsi di rumah, restoran, atau taman terbuka. Tak
jarang juga acara makan-makannya di restoran, tetapi dilanjutkan dengan sesi
foto-foto di taman. Sang gadis tetap memakai gaun pesta seperti gaun pengantin.
Pada
saat acara, si gadis didampingi seorang ‘pendamping’ yang dipilihnya, yaitu
seorang pemuda, yang menemani si gadis sampai pesta selesai. Acara ini juga
dilengkapi dengan 14 pasangan pemuda-pemudi lainnya, yang biasanya teman-teman
atau anggota keluarganya, yang akan
menari bersama-sama pada acara tersebut.
Tradisi
ini awal mulanya berasal dari Mexico dan Amerika Tengah, saat ini sudah lazim
dirayakan di berbagai negara bagian Amerika, dan
saya baca beberapa informasi, sudah mulai merambah ke Indonesia. Semoga saja,
yang diambil adalah nilai positifnya. Karena perayaan semacam ini tentu saja
menghabiskan sangat besar dana dan waktu. Nilai positifnya adalah, perhatian
keluarga terhadap seorang anak gadis yang menginjak dewasa, sangat penting untuk
menumbuhkan nilai positif dan kepercayaan dirinya, agar eksistensinya dalam
masyarakat terlihat untuk memberikan kontribusi, baik
pikiran dan tenaga untuk kegiatan dalam masyarakat. Si gadis juga akan merasa
diperhatikan dan keberadaannya sangat diperlukan untuk kemajuan daerah dan negaranya, mudah-mudahan.
Dalam
Islam, usia 15 tahun bisa jadi merupakan rata-rata usia akil baliq bagi seorang
perempuan, dengan datangnya haidh pertama pertanda organ repoduksi telah
sempurna. Meskipun itu relatif, ada yang mendapatkan haidh pertama di usia 9
tahun atau bahkan 16 tahun. Ketika telah mendapatkan ‘tanda’ dewasa, si
perempuan kecil telah menjadi wanita dewasa yang wajib melaksanakan segala
ajaran Islam dengan hukum-hukumnya, seperti: salat lima waktu, puasa, zakat,
dan haji bagi yang mampu. Auratnya tidak boleh dilihat orang selain mahramnya.
Semua perilaku akan diperhitungan mulai di usia aqil baliq, di hadapan manusia
maupun di hadapan Allah SWT.
Setiap daerah dan negara
memiliki ciri khas, tergantung pada wisdom, adat istiadat,
dan agama yang dianut.
Mempelajari adat negara lain adalah sebuah pengetahuan, yang menjadi pemicu
kita untuk lebih menghargai adat dan kebiasaan kita sendiri, bukan untuk
merubah diri untuk melaksanakan adat mereka bukan? Mengutip prinsip bangsa Jepang dari film ‘The Last samurai’ bahwa
kemanapun kita pergi, di manapun kita berada, dan dengan siapapun kita
berteman, jangan pernah kita melupakan dari mana kita berasal.
Houston.29.10.2018. Thanks Ida
atas tambahan idenya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar