Capah atau sering disebut caprok, keduanya adalah bahasa Aceh untuk menyebut cobek. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), capah adalah cakah. Arti lainnya dari capah adalah piring besar, bulat, dan datar terbuat dari kayu.
Menurut bahasa Aceh, capah dapat dibuat dari batu yang dipahat, atau dari kayu yang mudah dibentuk dan tidak pecah seperti batang kelapa, kayu nangka, kayu rubek, batang waru, dll), dan dari tanah liat. Ketiga bahan pembuatan tersebut menghasilkan capah dengan tekstur dan kegunaan khas masing-masing. Pembuatan capah biasanya secara konvensional (manual) dan menuntut keterampilan tinggi pembuatnya. Secara tradisional, umumnya perajin capah mendapat keahlian tersebut secara turun-temurun dan menjadi usaha keluarga.
Dari penelusuran google
, saya dapatkan informasi tentang nama ‘capah’ yang juga merujuk kepada benda
yang sama, oleh orang Karo. Capah dibuat dari kayu nangka atau kayu piale. Benda
tersebut digunakan sebagai tempat makan bersama, yang digunakan oleh empat
orang sekaligus untuk sekali makan.
Di Aceh sendiri, capah digunakan sebagai wadah multifungsi: tempat meletakkan bumbu-bumbu sebelum digiling, tempat merajang sayuran, tempat meletakkan ikan ketika dibersihkan, tempat menghaluskan aneka sambal dengan menggunakan ulok-ulok (ulekan) seperti sambal asam udang belimbing wuluh, tempat mengulek sambal terasi, mengulek rujak asam sunti, dan paling spesial adalah tempat meletakkan sayur pliek u ketika baru matang, untuk kemudian di’seungeung’ (makan langsung tanpa dicampur nasi. Beberapa orang di Aceh memiliki kebiasaan demikian, konon, makan sayur pliek u dari dalam capah memberi sensasi rasa yang berbeda.
Capah memiliki ukuran beragam, dari yang kecil berdiameter 10 cm dan tinggi sekitar 5 cm, sampai berdiameter 30 cm lebih. Capah ukuran kecil biasanya digunakan untuk meletakkan sambal, garam dan cabe rawit, di atas meja, sebagai pelengkap masakan. Sementara capah ukuran besar dan sedang bisa digunakan untuk tempat membersihkan ikan, sayur, mengulek sambal, dan sebagainya. Di era modern, capah umum digunakan sebagai tempat makan, tempat menggeprek ayam goreng (ayam geprek yang diberi sambal terasi dan lalapan), yang sangat digandrungi berbagai kalangan. Usaha kuliner bermedia capah, menjadi ciri kombinasi klasik-modern yang sangat menarik.
Modernisasi fungsi
capah juga merambah lebih jauh, selain di rumah makan dan caffee modern, capah
mulai berperan sebagai souvenir pesta pernikahan yang elegan, meski berasal
dari bahan sederhana, keberadaan capah sebagai souvenir sangat menarik minat
setiap kalangan karena terkesan ‘klasik-modern’, sederhana tapi elegan, dan
yang pasti murah dan sangat bermanfaat.
Bermula saya melihat
pada acara pesta pernikahan sepupu suami di Bireuen, yang merupakan pusat
pembuatan aneka model keramik berbahan tanah liat. Para tamu sangat puas dengan
souvenir berupa capah keramik mungil berdiameter sekitar 12 cm, meskipun saya
tidak kebagian karena telah habis ketika kami datang. Kemudian di beberapa
tempat lain juga mengikuti hal serupa, souvenir capah. Saya rasa taka da salahnya
yang memiliki kelebihan, dapat menyediakan souvenir pernikahan. Bukankah acara
pesta pernikahan disunnahkan memberikan makanan terbaik sesuai kemampuan, dan
para tamu mendapatkan kesan terbaik?
Menggunakan produk
lokal untuk souvenir pernikahan juga membantu perekonomian masyarakat. Mari kita
promosikan capah agar semakin berkelas, dan masyarakat perajin naik kelas! Yang
mau pesan capah untuk souvenir maupun keperluan hari-hari bisa japri saya ;).
Contoh souvenir capah keramik tanah liat ada dalam gambar ya.
Lhokseumawe, 4 Agustus 2020
Penulis adalah dosen Politeknik Negeri
Lhokseuamawe



Tidak ada komentar:
Posting Komentar