fonnazahra
Kamis, 18 November 2021
Percakapan Seorang Ibu dengan Anak Laki-lakinya
Senin, 31 Mei 2021
AYAM KAMPUNG (Bagian 1)
Rabu, 23 September 2020
TISU TOILET
Fonna Zahra
Sudah lama aku ingin menulis tentang tisu toilet, tetapi baru kali ini berkesempatan. Aku awalnya malas menulisnya karena kupikir itu adalah hal remeh temeh yang tak ada gunanya. Tetapi semakin aku ingin mengenyahkan rasa ingin menulis itu, semakin kerap aku dilanda risau. Baiklah, setelah lebih 15 tahun, akhirnya hari ini aku menulisnya.
***
Tsunami
yang meluluhlantakkan bumi Serambi Mekkah tahun 2004 silam, menyisakan duka
cita mendalam, tak lekang dari ingatanku bagaimana air hitam pekat itu menyapu
seluruh isi kota dan desa di Aceh waktu itu. Usai tsunami, banyak hal berubah
tentang Aceh. Aku yang dulu tak familiar dengan tisu, berkat tsunami,
berbondong-bondong entah bantuan dari mana saja menyediakan tisu gratis
berlimpah untuk masyarakat.
Mungkin bagi masyarakat perkotaan, keberadaan tisu sudah lazim dan merupakan kebutuhan primer. Tetapi bagi masyarakat di tempat tinggalku, yang notabene masyarakat kampung, tisu adalah barang mewah. Bahkan orang-orang tua tidak tahu barang itu apa dan untuk apa.
Sejak
kecil aku tak pernah mengenal tisu. Di rumah, abi dan ummi tak pernah
menyediakan tisu di kamar mandi. Seusai BAB maupun BAK, kami terbiasa hanya
langsung mengenakan pakaian dalam. Entahlah bagaimana bisa keadaan lembab di
area sensitif itu membuat hidup kami tetap sehat sampai sekarang.
Para
pemberi bantuan yang kebanyakan dari luar negeri itu, menggolontorkan
bertruk-truk tisu, karena dianggap kami sang pesakitan yang terkena dampak
tsunami itu kesulitan memperoleh tisu untuk urusan hajat ‘penting’ harian. Padahal,
kami tak terbiasa memakai tisu itu. Urusan membersihkan hajat bagi kami, harus
menggunakan air, dan itu sudah cukup. Tanpa air, kami tak bisa buang hajat. Dan syukur Alhamdulillah, air mudah diperoleh. Meskipun saat awal-awal setelah musibah tsunami, agak sulit mendapatkan air bersih.
Nah,
ketika sempat terdampar di negeri panser untuk menuntut ilmu, barulah kutahu
bahwa orang luar negeri itu tidak menggunakan air untuk membersihkan ‘hajat’nya,
mereka cukup mengelap dengan tisu. Aih!! Kubayangkan sisa kotoran yang melekat
di dubur cuma disapu dengan tisu kering, apa bisa bersih? Sementara aku saja
harus menyiram air dan menggosok berkali-kali untuk memastikan kotoran dan
baunya telah lenyap. Sehingga, selama dua tahun berwara-wiri di negeri asing
itu, bertisu untuk membersihkan hajat, tidak masuk ke akalku. Oleh sebab itu, ketika
aku sedang berada di luar apartemenku, sering kusediakan botol air kosong dalam
tas, agar ketika mesti BAB atau BAK, bisa menampung air untuk cebok, karena semua toilet di manapun
tidak menyediakan air untuk cebok. Tetapi
meskipun begitu, toilet di sana walaupun toilet umum, bersih melebihi bersihnya
kamar tidurku.
Lalu,
kalau tak menggunakan sebagai perlengkapan di toilet, tisu seabreg itu
dikemanakan? Tak perlu heran, kalau orang-orang menjual tisu tisu toilet
bergulung-gulung itu ke toko, atau dibagikan ke orang lain. Bagi yang
menggunakan sendiri, tisu gulung tersebut diletakkan di atas piring, dan
dijadikan sebagai tisu untuk mengelap tangan dan mulut seusai makan. Jadi,
jangan heran, ketika itu, setiap ada acara kenduri, hajatan, dan sebagainya,
tisu toilet dijadikan serbet untuk membersihkan tangan dan mulut.
Hal itu lazim saja bagi masyarakat di tempatku waktu itu. saat ini, setelah 15 tahun berlalu, masyarakat sudah melek tisu. Di kios-kios kecil pun sudah bisa diperoleh tisu, tidak mesti harus ke minimarket. Masyarakat juga sudah banyak yang menyediakan tisu di rumah, artinya, efek tsunami telah memperkenalkan risu toilet pada masyarakat Aceh di kampung-kampung. Di satu sisi, kebersihan area sensitif bisa lebih terjaga, di sisi lain, penggunaan tisu berlebihan bisa menjadi sebab musabab hilangnya hutan, bukankan membutuhkan kayu untuk membuat tisu? Mudah-mudahan tisu tidak dibuat dari kayu hutan!
Lhokseumawe, 23 September 2020
FZ
Selasa, 04 Agustus 2020
MINYAK PERAWAN
Senin, 03 Agustus 2020
CAPAH
Capah atau sering disebut caprok, keduanya adalah bahasa Aceh untuk menyebut cobek. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), capah adalah cakah. Arti lainnya dari capah adalah piring besar, bulat, dan datar terbuat dari kayu.
Menurut bahasa Aceh, capah dapat dibuat dari batu yang dipahat, atau dari kayu yang mudah dibentuk dan tidak pecah seperti batang kelapa, kayu nangka, kayu rubek, batang waru, dll), dan dari tanah liat. Ketiga bahan pembuatan tersebut menghasilkan capah dengan tekstur dan kegunaan khas masing-masing. Pembuatan capah biasanya secara konvensional (manual) dan menuntut keterampilan tinggi pembuatnya. Secara tradisional, umumnya perajin capah mendapat keahlian tersebut secara turun-temurun dan menjadi usaha keluarga.
Dari penelusuran google
, saya dapatkan informasi tentang nama ‘capah’ yang juga merujuk kepada benda
yang sama, oleh orang Karo. Capah dibuat dari kayu nangka atau kayu piale. Benda
tersebut digunakan sebagai tempat makan bersama, yang digunakan oleh empat
orang sekaligus untuk sekali makan.
Di Aceh sendiri, capah digunakan sebagai wadah multifungsi: tempat meletakkan bumbu-bumbu sebelum digiling, tempat merajang sayuran, tempat meletakkan ikan ketika dibersihkan, tempat menghaluskan aneka sambal dengan menggunakan ulok-ulok (ulekan) seperti sambal asam udang belimbing wuluh, tempat mengulek sambal terasi, mengulek rujak asam sunti, dan paling spesial adalah tempat meletakkan sayur pliek u ketika baru matang, untuk kemudian di’seungeung’ (makan langsung tanpa dicampur nasi. Beberapa orang di Aceh memiliki kebiasaan demikian, konon, makan sayur pliek u dari dalam capah memberi sensasi rasa yang berbeda.
Capah memiliki ukuran beragam, dari yang kecil berdiameter 10 cm dan tinggi sekitar 5 cm, sampai berdiameter 30 cm lebih. Capah ukuran kecil biasanya digunakan untuk meletakkan sambal, garam dan cabe rawit, di atas meja, sebagai pelengkap masakan. Sementara capah ukuran besar dan sedang bisa digunakan untuk tempat membersihkan ikan, sayur, mengulek sambal, dan sebagainya. Di era modern, capah umum digunakan sebagai tempat makan, tempat menggeprek ayam goreng (ayam geprek yang diberi sambal terasi dan lalapan), yang sangat digandrungi berbagai kalangan. Usaha kuliner bermedia capah, menjadi ciri kombinasi klasik-modern yang sangat menarik.
Modernisasi fungsi
capah juga merambah lebih jauh, selain di rumah makan dan caffee modern, capah
mulai berperan sebagai souvenir pesta pernikahan yang elegan, meski berasal
dari bahan sederhana, keberadaan capah sebagai souvenir sangat menarik minat
setiap kalangan karena terkesan ‘klasik-modern’, sederhana tapi elegan, dan
yang pasti murah dan sangat bermanfaat.
Bermula saya melihat
pada acara pesta pernikahan sepupu suami di Bireuen, yang merupakan pusat
pembuatan aneka model keramik berbahan tanah liat. Para tamu sangat puas dengan
souvenir berupa capah keramik mungil berdiameter sekitar 12 cm, meskipun saya
tidak kebagian karena telah habis ketika kami datang. Kemudian di beberapa
tempat lain juga mengikuti hal serupa, souvenir capah. Saya rasa taka da salahnya
yang memiliki kelebihan, dapat menyediakan souvenir pernikahan. Bukankah acara
pesta pernikahan disunnahkan memberikan makanan terbaik sesuai kemampuan, dan
para tamu mendapatkan kesan terbaik?
Menggunakan produk
lokal untuk souvenir pernikahan juga membantu perekonomian masyarakat. Mari kita
promosikan capah agar semakin berkelas, dan masyarakat perajin naik kelas! Yang
mau pesan capah untuk souvenir maupun keperluan hari-hari bisa japri saya ;).
Contoh souvenir capah keramik tanah liat ada dalam gambar ya.
Lhokseumawe, 4 Agustus 2020
Penulis adalah dosen Politeknik Negeri
Lhokseuamawe
Minggu, 19 Juli 2020
LEMAN
Kamis, 19 Maret 2020
BUKAN MUG BIASA
Kutuang kopi panas ke mug spesialku. Melupakan Sejenak virus korona yang tak tergambarkan ngerinya.
***
Seperti 'bukan mug biasa' milikku, yang akan terang pada saatnya ketika panas mengisi. keadaan saat ini yang gelap akan sirna berganti terang...sekolah akan normal kembali, pasar akan ramai, mesjidpun akan penuh kembali, melebihi yang sudah-sudah. Amin ya Rabbal Alamin.
Lhokseumawe, 20 Maret 2020







