Kamis, 18 November 2021

Percakapan Seorang Ibu dengan Anak Laki-lakinya

Percakapan saya (SA) dengan anak muda cilik saya (AM) malam ini 

 AM : Mak, kenapa ayah Aira gak pernah datang ke rumah Aura? Kenapa bisa ada Aira kalua dia gak ada ayahnya? 

Aira adalah tetangga kami, teman sebaya anakku 

Saya menghela nafas, pertanyaan ini dulu pernah ditanyakan, mungkin setahun atau dua tahun lalu, tetapi saya jawab sekedarnya: “ayahnya sedang pergi kerja jauh, gak bisa pulang” saat itu diskusi selesai. 

Kali ini, seiring bertambah usianya, gak mungkin lagi saya berikan jawaban serupa. Berpikir sejenak. 

SA: Aira punya ayah kok, tetapi ayahnya dengan ibunya sudah tidak bersama lagi, sudah cerai 

AM: Kenapa cerai? Seperti saya duga, anak muda saya ini makin penasaran 

SA: Yaa. Mungkin mereka sudah tidak cocok lagi 

AM: kok bisa ya? 

SA: itulah kehidupan, ada masa kadang kita tidak saling cocok lagi jadi harus berpisah 

AM: tapi kok Aira tinggal sama mamaknya, bukan ikut ayahnya aja 

SA: menghela nafas, kalau misalkan mamak dan ayah berpisah, kamu akan ikut siapa? 
Saya lihat wajah AM melesu, agak lama baru dijawab:

AM: Ikut mamak, malas ikut ayah, ayah asyik kerja aja selalu 

Deg! Ingin rasanya menangis keras ya Allah, apakah anakku akan tumbuh besar dan dewasa, tanpa sosok ayah? Memang ayah ada, tetapi tidak pernah ada untuknya. Aku tak ingin apa yang kualami sewaktu kecil: tidak pernah berdekat-dekat dengan ayah, kalau perlu sesuatu dengan ayah harus menunggu lama karena jarang sekali bisa bertemu. Bukan karena ayahku sibuk kerja, tetapi entah kemana ia pergi setiap hari. Ketika aku di rumah sepulang sekolah, ayah belum pulang, pulang ngaji malam hari, ayah belum Nampak. Bangun pagi dan hendak ke sekolah, ayah masih tidur. Entah kapan bisa duduk dan bersenda gurau. Ternyata sampai aku dewasa, ia ada tetapi tiada. Allahummaghfirlahu, meskipun begitu, sosoknya dulu sangat kukagumi. 

Apakah hal serupa akan dialami oleh anakku? Meski tidak sama persis, tetapi saat ini sang ayah pergi jam 7 atau jam 8, pulang jam 6, mandi dan ke mesjid, lalu pulang lagi habis isya atau kadang lebih lama. 

Meskipun ada di rumah, tetapi sibuk dengan pekerjaan di dalam kamar kerja, dan akan keluar ketika anak-anak sudah tidur. Begitupun di akhir pekan, setiap sabtu dan minggu ada kegiatan yang harus ke luar. Anak-anak masih kecil, butuh perhatian dan sosok ayah. 

Tetapi aku, secapek apapun, tetap berusaha membawa mereka jalan atau kemana aja di akhir pekan, meskipun tidak setiap pekan, kuberharap bila usiaku sampai tua, ia masih mau berada di sisiku, meski tidak setiap hari, dan masih mau mengajakku jalan-jalan, meski setahun sekali. 

Pernah ditanya oleh penjual asongan di suatu tempat wisata tak jauh dari rumah: Ayahnya gak ikut, Bu? Setelah melihat anak-anakku sibuk bermain dan berlari,lalu berebut minta dibelikan kacang. 

Aku sempat terkejut, bukan karena pertanyaan itu. Tetapi aku sudah terbiasa kemana aja tanpa ayah anak-anak, dan bahkan tidak pernah berpikir untuk ia ikut serta, karena sudah kujalani bertahun-tahun. 

Tetapi pertanyaan itu, membuatku berpikir, benar, aku bahkan lupa ia ada. 

Kembali ke AM 
Inilah hidup, Nak. Ada orang kehilangan ayahnya karena meninggal, atau bercerai dengan ibunya, tetapi lebih sakit kehilangan ayah tetapi sosoknya antara ada dan tiada. Tetaplah menjadi lelaki tegar ketika dewasa, penuh tanggung jawab, perhatian dengan keluarga, mamak hanya bisa mendokanmu, semoga Allah menjadikan kamu orang memperjuangkan agama Allah, yang sayang keluarga, penuh perhatian pada orangtuamu, dan menjadi pemimpin adil dan tegas, paling tidak untuk keluargamu sendiri. 

 Dari mamak untuk anak laki-laki kecilnya yang sedang tumbuh dewasa.18.Nov.21

Senin, 31 Mei 2021

AYAM KAMPUNG (Bagian 1)

Memelihara ayam kampung sangatlah unik dan gampang-gampang susah. Tapi tidaklah susah-susah amat. Seperti aku, sudah sejak lama memelihara ayam kampung meski tak banyak, sekitar 6-12 ekor saja. Kenapa aku buat dalam range segitu? Pengalamanku, setiap beberapa waktu, ada pandemik yang menyerang ayam. Yaa sekitar dua tahun sekali, kadang setahun sekali. Katanya itu virus flu, atau semacamnya. Ayam-ayam akan mengalami musim penyakit secara tiba-tiba, dan dalam beberapa hari ia akan mati secara mengenaskan, dengan mengelepar-gelepar tanpa sebab, lalu koit. Tetapi selama aku memelihara ayam kampung, jarang sekali disambar penyakit, kata para tetangga, mungkin ayam-ayamku jarang keluar kandang, ia hanya main-main di kawasan rumahku saja….karena rutin aku kasih makan, jadi ia tak perlu bekerja keras untuk cari makan apalagi sampai ke luar negeri..eh maksudku ke luar kandang. Sudahlah…itu bukan hal penting, aku mau cerita hal lain tentang ayam kampung. Fenomena unik adalah, ayam-ayamku rajin bertelur. Saat ini aku memiliki 3 ekor ayam betina, 1 ekor anak ayam menjelang remaja, dan 1 ekor ayam jantan. Ketiga ekor ayam betina rutin bertelur, setelah selesai masa bertelur, dengan kuantitas 14 – 17 butir per ekor ayam, mereka hanya rehat seminggu atau paling lama dua minggu sebelum bertelur lagi. Kalau telur-telur itu kubiarkan dierami, akan perlu waktu lebih lama untuk masa bertelur berikutnya, karena menunggu telur menetas (sekitar 22 hari), ia akan memelihara anak-anaknya sampai siap untuk bisa mencari makan sendiri atau pintar makan sendiri (sekitar 30 hari, bahkan bisa lebih), baru kemudian ia akan bertelur lagi.
Untuk tempat bertelur para betina akan mencari dan memilih tempat paling nyaman dan aman. Aku selalu menyediakan kenyamanan itu di dalam kandang, berupa tempat empuk dan terlindungi dari cahaya matahari, hujan, dan dari kemungkinan predator (musang dan burung elang, exclude diriku sebagai predator otonom). Sebagai contoh, aku menyiapkan kardus bekas mi instan, atau bekas barang lain, ya kira-kira segede itu lah. Di dalamnya kulapisi goni bekas beras, dan di atasnya kain bekas, yang bersih tentunya, supaya ayamnya betah dan tak perlu pakai masker ketika bertelur, atau bisa pingsan. Kain-kain yang kugunakan biasanya pakaian-pakaian yang sudah tak terpakai lagi. Suatu kali, aku mendapati dalam tumpukan kain bekas itu sebuah rok bekas sekolah SD sulungku, yang tak mungkin lagi kuberikan ke orang lain karena restletingnya sudah rusak dan jahitan di bawah rok juga sudah lepas benangnya. Maka kuputuskan kain itu layak untuk pengempuk dudukan ayam bertelur alias springbed ayam. Hari pertama, kupindahkan dua butir telur yang diletakkan di atas karung bekas beras itu ke dalam springbed barunya. Kuyakin ayam akan menyukai suasana barunya. Keesokan harinya kulihat telur sudah bertambah menjadi tiga, tetapi kain berwarna merah itu sudah bergeser, telur-telur sudah tidak lagi di atas kain merah. “ah, lasak juga nih ayam kalau bertelur sampai-sampai springbed berantakan begini,” pikirku. Kurapikan Kembali kain merah, dan telur-telur itu kuletakkan kembali ke atasnya. Keesokan harinya terjadi hal yang sama, telur-telur yang kini sudah empat butir, telah berpindah dari kain merah, kain merah itu telah berantakan ke pinggiran. Kurapikan lagi, begeser lagi esoknya. Akhirnya kain merah kucabut, kuganti kain krem dari baju bekasku. Esoknya, telut-telur sudah menjadi 6, dan springbed tetap rapi, tak berantakan. Fenomena ini kutanyakan pada beberapa tetanggaku, mereka juga punya pengalaman serupa pada bebek peliharaan mereka. Bebek betina menggeser kain merah yang diletakkan sebagai springbed tempat bertelur, dan memilih langsung bertelur di atas tanah. Apakah ayam dan bebek kalian punya karakter benci kain merah? Ayo komen di bawah ya. Oya, gambar di atas ilustrasi saja ya. Lhokseumawe.30Mei2021

Rabu, 23 September 2020

TISU TOILET

 Fonna Zahra


        

Sudah lama aku ingin menulis tentang tisu toilet, tetapi baru kali ini berkesempatan. Aku awalnya malas menulisnya karena kupikir itu adalah hal remeh temeh yang tak ada gunanya. Tetapi semakin aku ingin mengenyahkan rasa ingin menulis itu, semakin kerap aku dilanda risau. Baiklah, setelah lebih 15 tahun, akhirnya hari ini aku menulisnya.

***

Tsunami yang meluluhlantakkan bumi Serambi Mekkah tahun 2004 silam, menyisakan duka cita mendalam, tak lekang dari ingatanku bagaimana air hitam pekat itu menyapu seluruh isi kota dan desa di Aceh waktu itu. Usai tsunami, banyak hal berubah tentang Aceh. Aku yang dulu tak familiar dengan tisu, berkat tsunami, berbondong-bondong entah bantuan dari mana saja menyediakan tisu gratis berlimpah untuk masyarakat.

Mungkin bagi masyarakat perkotaan, keberadaan tisu sudah lazim dan merupakan kebutuhan primer. Tetapi bagi masyarakat di tempat tinggalku, yang notabene masyarakat kampung, tisu adalah barang mewah. Bahkan orang-orang tua tidak tahu barang itu apa dan untuk apa.

Sejak kecil aku tak pernah mengenal tisu. Di rumah, abi dan ummi tak pernah menyediakan tisu di kamar mandi. Seusai BAB maupun BAK, kami terbiasa hanya langsung mengenakan pakaian dalam. Entahlah bagaimana bisa keadaan lembab di area sensitif itu membuat hidup kami tetap sehat sampai sekarang.

Para pemberi bantuan yang kebanyakan dari luar negeri itu, menggolontorkan bertruk-truk tisu, karena dianggap kami sang pesakitan yang terkena dampak tsunami itu kesulitan memperoleh tisu untuk urusan hajat ‘penting’ harian. Padahal, kami tak terbiasa memakai tisu itu. Urusan membersihkan hajat bagi kami, harus menggunakan air, dan itu sudah cukup. Tanpa air, kami tak bisa buang hajat. Dan syukur Alhamdulillah, air mudah diperoleh. Meskipun saat awal-awal setelah musibah tsunami, agak sulit mendapatkan air bersih.

Nah, ketika sempat terdampar di negeri panser untuk menuntut ilmu, barulah kutahu bahwa orang luar negeri itu tidak menggunakan air untuk membersihkan ‘hajat’nya, mereka cukup mengelap dengan tisu. Aih!! Kubayangkan sisa kotoran yang melekat di dubur cuma disapu dengan tisu kering, apa bisa bersih? Sementara aku saja harus menyiram air dan menggosok berkali-kali untuk memastikan kotoran dan baunya telah lenyap. Sehingga, selama dua tahun berwara-wiri di negeri asing itu, bertisu untuk membersihkan hajat, tidak masuk ke akalku. Oleh sebab itu, ketika aku sedang berada di luar apartemenku, sering kusediakan botol air kosong dalam tas, agar ketika mesti BAB atau BAK, bisa menampung air untuk cebok, karena semua toilet di manapun tidak menyediakan air untuk cebok. Tetapi meskipun begitu, toilet di sana walaupun toilet umum, bersih melebihi bersihnya kamar tidurku.

Lalu, kalau tak menggunakan sebagai perlengkapan di toilet, tisu seabreg itu dikemanakan? Tak perlu heran, kalau orang-orang menjual tisu tisu toilet bergulung-gulung itu ke toko, atau dibagikan ke orang lain. Bagi yang menggunakan sendiri, tisu gulung tersebut diletakkan di atas piring, dan dijadikan sebagai tisu untuk mengelap tangan dan mulut seusai makan. Jadi, jangan heran, ketika itu, setiap ada acara kenduri, hajatan, dan sebagainya, tisu toilet dijadikan serbet untuk membersihkan tangan dan mulut.  Bagaimana dengan di tempatmu?

Hal itu lazim saja bagi masyarakat di tempatku waktu itu. saat ini, setelah 15 tahun berlalu, masyarakat sudah melek tisu. Di kios-kios kecil pun sudah bisa diperoleh tisu, tidak mesti harus ke minimarket. Masyarakat juga sudah banyak yang menyediakan tisu di rumah, artinya, efek tsunami telah memperkenalkan risu toilet pada masyarakat Aceh di kampung-kampung. Di satu sisi, kebersihan area sensitif bisa lebih terjaga, di sisi lain, penggunaan tisu berlebihan bisa menjadi sebab musabab hilangnya hutan, bukankan membutuhkan kayu untuk membuat tisu? Mudah-mudahan tisu tidak dibuat dari kayu hutan!


Lhokseumawe, 23 September 2020

            FZ

Selasa, 04 Agustus 2020

MINYAK PERAWAN

Fonna Zahra
**************


Khas minyak simplah adalah: belum terkena panas matahari, begitu pula dengan minyak VCO, proses pembuatannya tidak melibatkan panas, baik panas matahari maupun panas api. Oleh karena itu, kadar asam laurat dapat dijaga tetap tinggi.

Kandungan utama asam laurat (seperti yang terdapat dalam air susu ibu) yang melebihi 50%, merupakan senyawa yang berfungsi meningkatkan sistem imun dalam tubuh. Mengkonsumsi VCO secara rutin sangat baik bagi kesehatan dengan menjaga sistem kekebalan tubuh.

Diantara manfaat VCO:

Anti bakteri, anti virus, anti jamur, anti oksidan, mengobati luka luar, luka dalam, hepatitis, maag, wasir, hipertensi, jantung coroner, epilepsy, diabetes, kanker, TBC. Membakar lemak berlebih, menurunkan kolesterol jahat, sangat baik bagi kesehatan wanita hamil dan menyusui, meningkatkan kualitas asi, meningkatkan konsentrasi dan kecerdasan, dan masih banyak lagi manfaatnya.

Ayo minum VCO! Jaga sistem imun kita dengan baik, apalagi di masa pandemic begini...



Senin, 03 Agustus 2020

CAPAH


Fonna Zahra 

Capah atau sering disebut caprok, keduanya adalah bahasa Aceh untuk menyebut cobek. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), capah adalah cakah. Arti lainnya dari capah adalah piring besar, bulat, dan datar terbuat dari kayu. 

Menurut bahasa Aceh, capah dapat dibuat dari batu yang dipahat, atau dari kayu yang mudah dibentuk dan tidak pecah seperti batang kelapa, kayu nangka, kayu rubek, batang waru, dll), dan dari tanah liat. Ketiga bahan pembuatan tersebut menghasilkan capah dengan tekstur dan kegunaan khas masing-masing. Pembuatan capah biasanya secara konvensional (manual) dan menuntut keterampilan tinggi pembuatnya. Secara tradisional, umumnya perajin capah mendapat keahlian tersebut secara turun-temurun dan menjadi usaha keluarga.

Dari penelusuran google , saya dapatkan informasi tentang nama ‘capah’ yang juga merujuk kepada benda yang sama, oleh orang Karo. Capah dibuat dari kayu nangka atau kayu piale. Benda tersebut digunakan sebagai tempat makan bersama, yang digunakan oleh empat orang sekaligus untuk sekali makan.

Di Aceh sendiri, capah digunakan sebagai wadah multifungsi: tempat meletakkan bumbu-bumbu sebelum digiling, tempat merajang sayuran, tempat meletakkan ikan ketika dibersihkan,  tempat menghaluskan aneka sambal dengan menggunakan ulok-ulok (ulekan) seperti sambal asam udang belimbing wuluh, tempat mengulek sambal terasi, mengulek rujak asam sunti, dan paling spesial adalah tempat meletakkan sayur pliek u ketika baru matang, untuk kemudian di’seungeung’ (makan langsung tanpa dicampur nasi. Beberapa orang di Aceh memiliki kebiasaan demikian, konon, makan sayur pliek u dari dalam capah memberi sensasi rasa yang berbeda.

Capah memiliki ukuran beragam, dari yang kecil berdiameter 10 cm dan tinggi sekitar 5 cm, sampai berdiameter 30 cm lebih. Capah ukuran kecil biasanya digunakan untuk meletakkan sambal, garam dan cabe rawit, di atas meja, sebagai pelengkap masakan. Sementara capah ukuran besar dan sedang bisa digunakan untuk tempat membersihkan ikan, sayur, mengulek sambal, dan sebagainya. Di era modern, capah umum digunakan sebagai tempat makan, tempat menggeprek ayam goreng (ayam geprek yang diberi sambal terasi dan lalapan), yang sangat digandrungi berbagai kalangan. Usaha kuliner bermedia capah, menjadi ciri kombinasi klasik-modern yang sangat menarik.

Modernisasi fungsi capah juga merambah lebih jauh, selain di rumah makan dan caffee modern, capah mulai berperan sebagai souvenir pesta pernikahan yang elegan, meski berasal dari bahan sederhana, keberadaan capah sebagai souvenir sangat menarik minat setiap kalangan karena terkesan ‘klasik-modern’, sederhana tapi elegan, dan yang pasti murah dan sangat bermanfaat.

Bermula saya melihat pada acara pesta pernikahan sepupu suami di Bireuen, yang merupakan pusat pembuatan aneka model keramik berbahan tanah liat. Para tamu sangat puas dengan souvenir berupa capah keramik mungil berdiameter sekitar 12 cm, meskipun saya tidak kebagian karena telah habis ketika kami datang. Kemudian di beberapa tempat lain juga mengikuti hal serupa, souvenir capah. Saya rasa taka da salahnya yang memiliki kelebihan, dapat menyediakan souvenir pernikahan. Bukankah acara pesta pernikahan disunnahkan memberikan makanan terbaik sesuai kemampuan, dan para tamu mendapatkan kesan terbaik?

Menggunakan produk lokal untuk souvenir pernikahan juga membantu perekonomian masyarakat. Mari kita promosikan capah agar semakin berkelas, dan masyarakat perajin naik kelas! Yang mau pesan capah untuk souvenir maupun keperluan hari-hari bisa japri saya ;). Contoh souvenir capah keramik tanah liat ada dalam gambar ya.

 

Lhokseumawe, 4 Agustus 2020

Penulis adalah dosen Politeknik Negeri Lhokseuamawe

 


Minggu, 19 Juli 2020

LEMAN


LEMAN
Matahari masih menggantung dengan cahaya menyembul dari pepucuk pohon jambu halaman rumahku, ketika aku tergopoh-gopoh keluar setelah mendengar suara suamiku memanggil. Kutoleh lagi ke belakang memastikan kompor telah kumatikan.
“Dek, ada tamu!”
Di teras, seorang anak muda bertubuh tegap, memakai jaket kulit berwarna cokelat tua, menghampiri takzim, menyalami dan meletakkan punggung tanganku di dahinya, sebelum sempat aku tarik tanganku. Agak segan rasanya dihormati berlebihan begini, tetapi itulah kebiasaan pemuda itu selama empat tahun di kampus. Meski telah berkali-kali aku mengatakan bahwa tidak perlu mencium tangan, salaman pun cukup menangkupkan kedua telapak tangan sejajar dada, sudah oke. Apalagi dalam era covid-19 begini.
“Bu, apa kabar?” tanyanya setelah kupersilakan duduk di kursi teras.
Suamiku masih sibuk dengan urusannya di halaman depan, menyiapkan kelapa untuk dibawa ke pasar- kukur dan peras sekalian. Kami sudah beberapa minggu memproduksi VCO-
“Alhamdulillah, sehat walafiat, kamu apa kabar? Kerja apa sekarang?”
“Sehat juga bu. Masih mengurus usaha orang tua saya, usaha kulit sapi.”
“Wah, mantap juga masih konsisten di kulit sapi,” kataku sambil tersenyum. Anak ini sewaktu tugas akhir juga mengangkat penelitian tentang pengawetan kulit sapi, selesai kuliah sempat honor di kampus sebagai tenaga administasi, kemudian setahuku menlanjutkan S2.
“Maaf bu sebelumnya, saya mendadak ke sini, ada perlu sedikit dengan ibu.”
Dia berhenti sejenak, menarik nafas. Kulihat bulir0bulir keringat memenuhi dahinya. Kutatap jaket kulit itu, apa ia kepanasan gara-gara jaket? Atau ia jalan kaki tadi dari jalan raya ke rumahku yang berjarak sekitar 300 meter ini? Karena kutelisik ke depan rumah dan jalanan depan rumah taka da tanda-tanda ada kendaraan  bermotor apapun yang terparkir.
“Saya mau pinjam uang sama ibu, lima ratus ribu saja, untuk orngkos saya ke Medan, saya mau ke sana untuk kerja, ada kawan yang nawari saya kerja.” Lanjutnya.
“Ke Medan? Sekaran kan lagi musim korona, Medan kan zona merah, emang boleh ke sana?”
“Bisa bu, kawan saya ada di sana ngajak saya kerja.”
Kutatap wajah di depanku, ia sibuk mengelap keringat dengan punggung tangannya, mulutnya gemetar setiap berbicara, matanya agak merah seperti orang habis menangis, butir-butir keringat di kulit wajahnya terus keluar.
“Tapi ibu gak punya uang sebanyak itu, kalau kamu punya rekening bisa ibu transfer,” membunuh rasa was was dalam hati. Ia anak yang baik dan jujur selama kuliah. Aku menjadi penguji pada sidang tugas akhirnya, meskipun begitu, aku seakan-akan pembimbingnya, karena ia sering konsultasi masalah penelitiannya dan penulisan tugas akhir itu denganku setiap ada masalah apapun. Di situlah aku tahu ia anak yang rajin, ulet, sabar, dan pantang menyerah.
***
Suatu kali usai sidang tugas akhir, masih dalam masa perbaikan, ia datang ke rumah sekitar 15.30. Aku yang baru tiba dari kampus pukul 15.00 segera terlelap karena sedang kondisi kurang sehat, apalagi usai menguji beberapa orang di sidang hari itu. Wawak memanggilku dan mengatakan ada orang nunggu di depan, aku bilang, kalau mahasiswa besok aja ketemu di kampus, aku sangat lelah dan mengantuk, gak sanggup bangun.
Azan asar aku terbangun untuk salat, usai salat aku masih rebahan karena tulang-tulangku seperti mau remuk, kecapean.
Hampir pukul lima sore aku keluar untuk menghirup udara segar. Aku terkejut melihat di teras masih ada dia dengan tas punggung dan buku tugas akhir di pangkuannya.
“Astaghfirullah…kamu masih di sini?”
“Iya, Bu, maaf, saya nunggu ibu aja daripada harus pulang, gak masalah bu saya bisa konsultasi sekarang? Apa ibu udah baikan?”
Aku mengelus dada, berdoa pada Allah semoga anak ini dimudahkan rezekinya, dilancarakan urusannya.
***
Kembali ke masalah tadi.
“Tapi bu saya tidak punya rekening bank. Kalau gak gini aja, seberapa ada aja bu untuk saya pinjam.”
“Paling ada lima puluh ini, karena saya gak simpan uang cash.”
“Boleh juga, Bu” katanya menyimpan raut kecewa.
Hatiku trenyuh, masih teringat bagaimmana ia dulu duduk di teras ini menungguku bangun tidur, karena untuk pulang yang harus jalan kaki, jauh. Tapi seandainya pun ia telah ‘membohongiku’ aku ikhlas dengan uang yang aku berikan. Ya Allah, ampuni anak ini seandainya pun ia berbohong.
Aku ke kamar, menelisik lembaran-lembaran biru, kebetulan dalam dompet hasil penjualan VCO ada 3 lembar, aku berikan padanya, meski ia tadi menyebut ‘50juga boleh”. Ampuni anak ini ya Allah andaikan ia telah berubah, tidak seperti dulu.
Ia pamit setelah menerima uang. Dan kembali menyalami dan meletakkan punggung tanganku di dahinya sambil menunduk takzim.
“Saya akan kembalikan uang ibu nanti kalau saya sudah pulang dari Medan,” katanya sambil berbalik ke arahku, setelah beberapa langkah berlalu dari teras.
Aku mengangguk, memandanginya yang terus melangkah cepat dan menghilang dari balik pagar.
“Siapa?” Tanya suamiku, “kok sikapnya aneh gitu,” sambungnya.
“Alumni di kampus, entahlah Bang, dulu ia anak yang jujur, makanya saya kasih aja pinjam uang, kasihan dia.”
Taka da komentar lagi dari suamiku, kutahu ia kurang puas dengan jawaban ini, tetapi aku tak ingin melanjutkan membahasnya. Biarlah seperti yang kukatakan sebelumnya, andai ia bohong, ampuni ia.
***
“Kalau datang orang ini ke rumah kalian, jangan berikan uang ya. Orang ini tidak ada kaitan sama sekali dengan saya, dan tidak pernah saya memintanya untuk meminjam uang pada siapapun,” sebuah tulisan di wa grup di atasnya sebuah foto laki-laki muda berbaju biru terang. Ku’zoom’ wajahnya, tidak begitu jelas siapa yang dimaksud.
Karena wajahnya kurang jelas, saya membalas, “Siapa orang tu, bang?”
“Leman, alumni tahun 2016”
Tuing!
Aku menghubungi seorang kawan yang merupakan staf administrasi, beliau dulu bertugas di Jurusan ku mengajar, saat ini sudah dipindahkan ke divisi lain. Beliau terkenal dekat dengan mahasiswa, mengetahui hampir semua permasalahan mahasiswa, terutama siapa saja yang morat-marit keuangannya ketika kuliah. Dan di leman ini sempat menangis tersedu-sedu ketika beliau memberikan uang untuk biaya kuliahnya, setelah ia mengadu kesulitan membayar SPP.
“Oh ya? Kakak juga dapat info kalau dia datang ke Komplek Mutiara, ke rumah seorang dosen. Ia meminta pinjam uang karena disuruh Pak TR, ia sekarang kerja dengan pak TR, kalau sudah gajian nanti dikembalikan, ufhh.” Kata Kak Rara setelah aku ceritakan perihal Leman ke rumah. “Kasihan kita ya, anak yang santun, baik, dan rajin ketika kuliah dulu, sekarang jadi begini. Kata kawannya ia stress, depresi gitu.
“Ia kak, saya juga lihatnya begitu, raut wajahnya kayak depresi, masalah kelauarga kayaknya, kita doakan saja ia bisa menyelesaikan masalahnya,” sambungku.
Hidup ini penuh cobaan, dan cobaan itu semakin berat seiring dengan keadaan sekarang yang sulit sekali mencari pekerjaan. Tak akan bertahan hidup kita apabila segalanya kita mengukur dengan materi. Allah memberikan kita rezeki pada jalan yang tidak disangka-sangka bila kita maksimal ikhtiar, dan maksimal berserah diri pada-Nya. Rezeki bukan melulu materi, tetapi juga kesehatan jiwa raga, kemampuan melewati setiap masalah dan cobaan hidup.
Lhokseumawe, Juli 2020



Kamis, 19 Maret 2020

BUKAN MUG BIASA



Fonna Zahra


“Hidup ini untuk dijalani, kisah indah untuk dikenang, kisah duka untuk menjadi pelajaran. Hikmah selalu menyertai”

Kutuang kopi panas ke mug spesialku. Melupakan Sejenak virus korona yang tak tergambarkan ngerinya.


***
Menjelang akhir keberadaanku di Dresden waktu itu. Semua berkumpul untuk farewell party di ruang asrama Kezia. Ukuran kamar tak lebih dari 6 x 5 meter itu dipenuhi sekitar 15 orang mahasiswa Indonesia.
Aku, Sita, dan Ina yang hendak meninggalkan Dresden, menjadi tamu kehormatan. Pesta ini dibuat untuk kami. Makanan telah terhidang di meja: lontong sayur plus lauk pauk yang menggiurkan.
Masing-masing menyampaikan kesan-kesannya pada kami, kamipun membalas dengan ucapan terima kasih dan rasa haru tak terkira dijamu se’mewah’ ini. Tim Saman ‘Likok pulo’ kami harap terus berkiprah meski tanpa orang Aceh lagi dalam timnya, sebagaimana dulu aktif tanpa orang Aceh juga.
Usai makan-makan yang luar biasa lezat,  setiap orang dari kami bertiga dihadiahi kado berikat pita di atasnya. Langsung kubuka, ternyata sebuah mug cantik berwarna hitam. Sita mengambil mug itu dari tanganku, dan beranjak ke wastafel, ia memutar keran air panas, mengisi mug itu sampai penuh lalu membawanya ke hadapan kami semua.
“Lihat!” Katanya sambil terus memandang mug yang diangkat agak tinggi itu. Semua mata tertuju ke sana.
Perlahan dinding luar mug yang berwarna hitam berubah menjadi lebih terang-semakin terang, dan semakin teranglalu menjadi putih. Dalam nuansa putih itu Nampak jelas gambar Altstadt (Kota Tua) Dresden Semperoper, di atas semua gambar bangunan itu tertulis: Dresden Bei Nacht (Dresden malam hari). Semua bertepuk tangan. Aku merinding. Hampir saja bulir air mata haru menetes. Semua teman menyalami dalam suasana haru biru.

***

Kupandangi pemandangan Altstadt Dresden yang terang di dinding luar mug dan berulang membaca tulisan biru muda ‘Dresden bei Nacht’ sebelum menyeruput kopi yang panas yang telah menjadi hangat itu. Hidup ini didominasi kisah indah, yang selalu perlu dikenang. Keberadaan korona yang memerlukan kehati-hatian luar biasa itu, telah menyedot energi terbesar dalam hidup. Pun makhluk kecil tak berakal itu telah meruntuhkan banyak kesombongan. Akankah 'dia' membawa lari kebahagiaan hidup? Jangan sampai. Mug itu bukan bug biasa, ia telah mengukir kenangan indah dalam hidup. 

Seperti 'bukan mug biasa' milikku, yang akan terang pada saatnya ketika panas mengisi. keadaan saat ini yang gelap akan sirna berganti terang...sekolah akan normal kembali, pasar akan ramai, mesjidpun akan penuh kembali, melebihi yang sudah-sudah. Amin ya Rabbal Alamin.

Lhokseumawe, 20 Maret 2020