Fonna Zahra
“Hidup
ini untuk dijalani, kisah indah untuk dikenang, kisah duka untuk menjadi
pelajaran. Hikmah selalu menyertai”
Kutuang kopi panas ke mug spesialku. Melupakan Sejenak virus korona yang tak tergambarkan ngerinya.
***
Menjelang
akhir keberadaanku di Dresden waktu itu. Semua berkumpul untuk farewell party di ruang asrama Kezia.
Ukuran kamar tak lebih dari 6 x 5 meter itu dipenuhi sekitar 15 orang mahasiswa
Indonesia.
Aku,
Sita, dan Ina yang hendak meninggalkan Dresden, menjadi tamu kehormatan. Pesta ini
dibuat untuk kami. Makanan telah terhidang di meja: lontong sayur plus lauk
pauk yang menggiurkan.
Masing-masing
menyampaikan kesan-kesannya pada kami, kamipun membalas dengan ucapan terima
kasih dan rasa haru tak terkira dijamu se’mewah’ ini. Tim Saman ‘Likok pulo’
kami harap terus berkiprah meski tanpa orang Aceh lagi dalam timnya, sebagaimana
dulu aktif tanpa orang Aceh juga.
Usai makan-makan
yang luar biasa lezat, setiap orang dari
kami bertiga dihadiahi kado berikat pita di atasnya. Langsung kubuka, ternyata
sebuah mug cantik berwarna hitam. Sita mengambil mug itu dari tanganku, dan
beranjak ke wastafel, ia memutar keran air panas, mengisi mug itu sampai penuh
lalu membawanya ke hadapan kami semua.
“Lihat!”
Katanya sambil terus memandang mug yang diangkat agak tinggi itu. Semua mata
tertuju ke sana.
Perlahan dinding
luar mug yang berwarna hitam berubah menjadi lebih terang-semakin terang, dan semakin teranglalu
menjadi putih. Dalam nuansa putih itu Nampak jelas gambar Altstadt (Kota Tua)
Dresden Semperoper, di atas semua gambar bangunan itu tertulis: Dresden Bei
Nacht (Dresden malam hari). Semua bertepuk tangan. Aku merinding. Hampir saja
bulir air mata haru menetes. Semua teman menyalami dalam suasana haru biru.
***
Kupandangi
pemandangan Altstadt Dresden yang
terang di dinding luar mug dan berulang membaca tulisan biru muda ‘Dresden bei
Nacht’ sebelum menyeruput kopi yang panas yang telah menjadi hangat itu. Hidup
ini didominasi kisah indah, yang selalu perlu dikenang. Keberadaan korona yang
memerlukan kehati-hatian luar biasa itu, telah menyedot energi terbesar dalam
hidup. Pun makhluk kecil tak berakal itu telah meruntuhkan banyak kesombongan. Akankah 'dia' membawa lari kebahagiaan hidup? Jangan sampai. Mug itu bukan bug biasa, ia telah mengukir kenangan indah dalam hidup.
Seperti 'bukan mug biasa' milikku, yang akan terang pada saatnya ketika panas mengisi. keadaan saat ini yang gelap akan sirna berganti terang...sekolah akan normal kembali, pasar akan ramai, mesjidpun akan penuh kembali, melebihi yang sudah-sudah. Amin ya Rabbal Alamin.
Lhokseumawe, 20 Maret 2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar