Sejak
Desember 2013 saya resmi menjadi staff pengajar di Politeknik Negeri
Lhokseumawe. Sebagai putri daerah, tentu sangat bangga menjadi seorang dosen di
salah satu perguruan tinggi kebanggaan Aceh. Saya menikmati pekerjaan ini,
seakan pekerjaan ini adalah jiwa saya. Saya
sayang pada semua mahasiswa, tak terkecuali yang sedikit ‘spesial’, dan
memerlukan perlakuan spesial pula. Hal-hal demikian tak pernah membuat saya
ingin lari atau berhenti menjadi dosen, malah saya belajar banyak tentang arti
kesabaran, dan mempelajari teknik atau jurus menghadapi, artinya makin
mendewasakan saya. Saya yang dulunya boleh dibilang orang yang keras kepala,
setelah menjadi dosen, kepala yang keras harus perlahan ‘dikurangi’
kekerasannya.
Tahun
2008 saya kursus bahasa di Kuala Lumpur, Malaysia untuk persiapan ke Jerman melanjutkan sekolah S2. Saya mengamati banyak hal berbeda dengan yagn saya temui di negeri tercinta. Pun pada 2009-2011 saya berada di negeri benua biru, mempelajari lebih banyak hal lagi. Dua tahun tepat ditempa di negara
mantan kekuasaan Hitler itu telah mendongkrak tinggi pola pikir saya sebelumnya
tentang makna pendidikan, ilmu, akhlak, dan lingkungan. Berada di negeri
mayoritas nonmuslim, boleh dibilang mayoritas atheis, ternyata mampu
mendongkrak keimanan, sangat menghargai keberagaman, memaknai perbedaan, kesabaran, dan
bertahan dalam prinsip.
Saya
sempat berpikir, kalau 50 persen saja para staff pengajar mendapat kesempatan
untuk menimba ilmu ke luar negeri, terutama ke negeri-negeri maju, saya yakin
seratus persen bahwa kampus PNL akan berbeda jauh dari saat ini. Bukan sombong
bukan angkuh, ternyata ketika katak keluar dari tempurung, lenyaplah rasa
angkuh dan sombongnya. Otak pun bisa berpikir jauh ke depan. Logika diasah
tajam. Kesabaran tak berbatas.
Mengenyam
pendidikan di luar negeri memberi banyak bekal tentang sistem berpikir,
tanggung jawab, mandiri, sekaligus pandai bekerjasama, dan mencari sudut
pandang suatu masalah serta pantang menyerah. Memandang pentingnya mencintai
apa yang menjadi kewajiban kita, bukan hanya menuntut hak. Hal remeh temeh
lainnya yang ternyata di negeri orang adalah hal yang sangat penting: karakter
mencintai lingkungan, turut andil dalam menjaga kebersihan lingkungan. Jadi,
jangan harap anda bisa menjumpai kulit permen terselip diantara celah kursi,
apalagi botol minum dalam parit atau laci ruang kelas, atau bahkan di dalam pot
bunga.
Pada
tulisan ini saya ingin fokus ke topik Maju Kampusku. Maju, pada prinsipnya
memiliki kriteria umum yaitu tidak tertinggal, baik dari segi ilmu maupun
peradaban. Tak dipungkiri bahwa perkembangan ilmu pengetahuan sangat pesat
seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang kian kencang. Politeknik
pada prinsipnya harus, mau tak mau, terbawa arus perkembangan teknologi ini.
Meskipun dalam aplikasinya, ilmu-ilmu dasar yang mesti terus tertera dalam
kurikulum, merupakan basik pengetahuan yang mesti dimiliki oleh setiap
mahasiswa sebagai bekal ilmu praktis yang akan didapatnya kemudian. Karena ilmu
praktis tetap berasal-usul ilmu dasar.
Mengenai
hal ini saya tidak ragu sama sekali, PNL saya tercinta selalu mengikuti
perkembangan zaman dalam pelaksanaan pendidikan bagi mahsiswanya. Kurikulum
setiap tahun direvisi, dan untuk merevisi kurikulum kemenristekdikti mensupport
penuh, baik menyediakan dana, menyediakan prasarana, dan pelatihan staff. Kurikulum
terbaru di PNL, adalah KKNI, melalui program Revitalisasi pada dua prodi di PNL,
kerjasama dengan industri atau stakeholder, terlihat nyata dalam hal ini. Mahasiswa
diwajibkan berada 2 semaster di industri, untuk mendalami ilmu praktis
sedalam-dalamnya. Dua prodi saat ini menjadi contoh penerapan dual system
pendidikan vokasi, yaitu prodi Teknologi Pengolahan Migas dan Teknologi
Rekayasa Kimia Industri, menjadi contoh bagi seluruh Politeknik di Indonesia.
Dual system diprakarsai oleh Prodi Pengolahan Migas yang bekerjasama dengan
PT.Arun NGL sejak tahun 2010. Tahun 2015, namanya berubah menjadi PT.PAG, kerjasama
terus berlanjut. Siapa yang tidak bangga?
Staff
pengajar di PNL saya sangat salut, punya dedikasi tinggi, punya keahlian luar
biasa, tak kurang dari 90% dosen sudah memiliki sertifikat assessor kompetensi,
dan 99% memiliki sertifikasi dosen. Dalam apliaksinya, semua dosen sangat
terampil dalam ilmu praktis, dan jago dalam ilmu dasar.
Kesimpulan saya: masalah keilmuan
dan kualifiksi dosen, saya angkat jempol untuk PNL.
Masalah yang menjadi uneg-uneg
saya bukan keilmuan dan kualifikasi dosen, tetapi hal yang dianggap remeh temeh
tetapi menjadi ukuran penting pada penilaian keberadaban. Saya akan beri
beberapa ilustrasi yang saya amati dalam keseharian di PNL.
Negara yang disebut maju: tidak
ada serakan sampah di jalan, pengendara taat aturan (lampu lalu lintas,
rambu-rambu lainnya, kelengkapan safety berkendara, dsb), area merokok
terbatas, meskipun di udara terbuka.
1.
Sampah
Kertas di Laboratorium
Mahasiswa mengerjakan laporan praktikum dengan
lesehan di depan ruang lab, menggunting kertas, ketika mereka tidak lagi berada
di sana, lantai menjadi semacam area pembuangan sampah. Potongan-potongan
kertas dari besar hingga kecil-kecil berserakan, botol-botol air mineral, sisa
pulpen yang telah habis tintanya, dan plastik bekas makanan. Semuanya seakan
memang harus seperti itu. Tak jarang, area di samping laboratorium juga menjadi
tempat mendaratnya sampah setiap kali ada mahasiswa praktikum. Kejadian ini
seakan alamiah saja.
2. Sampah Plastik di Halaman
Mahasiswa yang duduk-duduk di tangga, depan area
kantor Jurusan Teknik Kimia, sambil menunggu jam pelajaran, atau menanti dosen
untuk keperluan tertentu, maupun hanya kongkow bersama teman-temannya. Setiap
beranjak selalu menyisakan sampah aneka rupa, baik plastik bekas makanan, bekas
botol air mineral, dan potongan-potongan kertas hvs. Sering sekali,
sampah-sampah itu tidak hanya berserakan di area depan jurusan, tetapi masuk ke
dalam parit depan, kiri, dan kanan. Pot bunga yang hanya 4 buah di depan
jurusan kerap juga menjadi tempat mangkalnya pipet bekas minuman, botol air
bekas, maupun plastik bekas makanan. Kejadian itu berlangsung setiap hari.
3. Sampah di Dalam Laci
Setiap kali masuk pelajaran, saya selalu mengamati
kebersihan kelas. Terutama sampah yang sering berserakan di lantai: kertas,
botol plastik bekas air mineral, kulit permen, plastik bekas makanan. Semua sampah
itu, akhir-akhir ini dari sejak 2 tahun ke belakang, kerap berada di dalam laci
meja. Sejak dua tahun ke belakang, meja di ruang kelas telah diganti dengan
model baru yang lebih elegan, tetapi menimbulkan permasalahan baru: laci
menjadi pusat pembuangan sampah. Misalnya minggu ini, laci sudah dikosongkan
sebelum pelajaran saya dimulai, ketika saya masuk dua hari kemudian di kelas
yang sama, laci telah berisi lagi dengan aneka sampah. Hal ini terjadi sepanjang
tahun, yang membuat saya tidak bisa lagi memarahi mahasiswa karena ini, tetapi
mengingatkan mahasiswa untuk memebersihkan laci setiap kali saya masuk. Beberapa
mahasiswa menggerutu, “bukan kami buk, tetapi orang lain yang masuk kelas ini.”
4. Sampah di lantai kantin dan area meja batu.
Kantin adalah
tempat makan atau sekedar kumpul-kumpul mengobrol/diskusi dengan
kawan-kawan, atau kadang sebagai tempat untuk menulis atau mengerjakan tugas
kuliah dengan santai. Di seluas area kantin, di bawah meja, sekitar kantin,
dalam parit sebelah kantin, penuh dengan sampah botol bekas air mineral,
plastik, dan tissue. Sepertinya para pengunjung kantin, dengan mudah melempar
sampah ke mana-mana, tanpa merasa bahwa itu akan membuat penampakan kantin
mirip tempat pembuangan sampah. Dan para pengujung kantin terlihat tak
bermasalah dengan itu. Miris.
5. Penggunaan safety berkendara
Mahasiswa banyak yang datang ke kampus menggunakan
kendaraan pribadi, saya prediksikan tak kurang dari 80 % mahasiswa menggunakan
motor, baik motor sendiri maupun bonceng pada motor kawannya. Beberapa
mahasiswa membawa mobil, dan selebihnya menggunakan kendaraan umum:labi-labi,
bus sekolah, L300, dsb.
Tak jarang mahasiswa mengebut di dalam kampus,
tidak mengenakan perlengkapan safety yang benar, bahkan tak jarang tidak
menggunakan safety sama sekali. Mereka bebas berwara-wiri dari pagi, sampai
sore. Padahal di pintu masuk PNL ada security, kenapa ini tidak dimaksimalkan? Kepatuhan
pada aturan berkendara, aturan di jalan raya, mestilah dibiasakan pada
mahasiswa, agar, mereka memiliki attitude yang baik selepas dari PNL.
Saya melihat bagaimana industri seperti PT. PAG
tempat mahasiswa melaksanakan PKL/magang. Tidak diizinkan masuk kendaraan yang
tidak dilengkapi safety. Pengendara motor harus mengenakan helm, berpakaian
yang tepat (tidak menggunakan rok yang lebar) melainkan celana atau rok yang
sepantasnya yang sesuai dengan keamanan berkendara motor.
Pengendara mobil harus memasang sabuk pengaman. Dan yang
paling penting kendaraan tidak ngebut, sehingga tak perlu adanya polisi tidur
di jalan dalam kampus, karena ada kesadaran mahasiswa dan semua pengendara
bahwa kecepatan kendaraan tak boleh melebihi sekian km/jam. Kesadaran itu bukan
ditunggu hadir dari hati mahasiswa, tetapi harus ‘dipaksakan’ dengan peraturan
dan sanksi yang jelas dan tegas. Para security yang berjaga di pintu masuk
harus aktif menjalankan tugas, melarang kendaraan tanpa safety masuk ke area
kampus.
Jadi, mendidik mahasiswa tentang disiplin
dan memiliki attitude yang baik, harus menyeluruh, bukan hanya ketika apel
masuk dan pulang lab, tetapi dimulai sejak mereka memasuki area kampus. Hal ini
akan membiasakan mereka untuk taat aturan.
6. Kehadiran di Kelas
Adanya kelonggaran aturan kehadiran dalam
pembelajaran beberapa tahun terakhir. Kalau dulu mahasiswa dikenakan denda
setiap jam yang dia tidak masuk kelas, dengan membayar sekian rupiah per jam
tidak masuk kelas, yang disebut kompensasi. Disiplin mahasiswa sangat baik ketika
aturan kompensasi berlaku dibandingkan sekarang dimana aturan kompensasi sudah
tidak ada lagi. Dalam semester genap 2018/2019 saya memperhatikan bahwa, pada
akhir semester, sekitar 60 surat peringatan harus dikirimkan ke orangtua
mahasiswa, 15% adalah SP 3 dan sisanya SP 2. Itu pun di bulan pertama semester beberapa
puluh surat SP telah dikirim ke orang tua mahasiswa. Tragis sekali. Kalau
dikalkulasi, sekian banyak mahasiswa yang tidak boleh mengikuti ujian akhir
karena kehadiran tidak sampai 85%. Sangat dilematis ketika aturan kompensasi
ditiadakan. Semestinya ditukar dengan aturan lain yang mendidik tanpa mengorbankan
nilai kedisiplinan itu sendiri. Salah satu kelebihan PNL dibandingkan kampus
lain adalah disiplinnya. Tetapi akhir-akhir ini, nilai lebih ini mengendur.
7. Merokok di Kawasan Kampus.
Mahasiswa harus ditegaskan untuk tidak merokok, dan
menghilangkan semua fasilitas terkait rokok di kampus. Pada pelaksanaannya
sekarang ini, mahasiswa dilarang merokok seperti yang tertuang dalam pasal 31
Buku Peraturan Akademik, tetapi rokok tersedia di kantin kampus. Mahasiswa
bebas mengepulkan asap rokoknya di kantin, atau di tempat-tempat lain di
kawasan kampus. Artinya, tidak sinkron antara peraturan dan pelaksanaan. Semestinya,
kantin tidak menjual rokok, dan kampus steril dari rokok. Bila ada mahasiswa
yang merokok di kampus, langsung diberi sanksi sesuai aturan. Untuk hal ini,
lagi-lagi saya kira pihak security harus diberi tugas. Sementara di kelas,
menjadi tanggung jawab dosen yang mengajar.
Jadi,
menurut saya, untuk memajukan kampus PNL kita harus habis-habisan. Tidak hanya
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang harus kita ikuti, melainkan
juga kedisiplinan, karakter, dan attitude
mahasiswa harus benar-benar menjadi perhatian utama. Karakter, attitude dan kedisiplinan itu dilatih
dengan memperhatikan hal-hal kecil. Seperti pada contoh di atas: kampus
mendorong mahasiswa mengenakan safety
berkendara, ‘memaksa’ menjaga kebersihan lingkungan, laboratorium, dan kelas,
tidak merokok. Pada awalnya mungkin akan terkesan ‘kekanak-kanakan’, atau
seperti ‘hana buet laen’. Tetapi berkacalah
pada negara maju, yang peradabannya sudah tinggi, baik Negara Islam maupun Negara
Kafir. Adakah mereka abai pada hal-hal semacam itu? Karena ternyata peradaban
itu dinilai dari tak hanya keilmuannya, tetapi juga karakter masyarakatnya.
Mahasiswa
yang lulus dari politeknik haruslah beradab, sebagaimana slogan PNL: ileumee beulee adab beuna. Adab, adalah
pembangun peradaban, bukan hanya turut, manut, dan bersikap sopan pada guru,
tetapi lebih jauh pada rasa tanggung jawab pada semua hal: tanggungjawab pada
tugas, tanggung jawab pada kewajiban, tanggung jawab terhadap pelaksanaan
aturan-aturan dan disiplin, tanggung jawab pada lingkungan. Semua hal itu bukan
hanya tertulis di buku panduan akademik, tapi harus diaplikasikan dan
pelaksanaannya harus jelas. Pelangggar aturan harus juga diberikan sanksi
terukur dan konsisten. Semua ini tidak akan terwujud tanpa ketegasan puncak
pimpinan Politeknik. Saya menggantungkan harapan besar pada Direktur terpilih
yang baru: TUGAS ANDA SANGAT BANYAK, SAYA PERCAYA ANDA MAMPU.
Dan saya
yakin setelah beberapa tahun ke depan, PNL akan menjadi kampus terbersih di
Aceh, kampus yang berperadaban maju, menjadi
contoh bagi masyarakat. Penghasil lulusan berkemampuan akademik yang bersaing,
dilengkapi kepribadian yang beradab.
Lhokseumawe.7Juli2019.Newhope.