Senin, 25 Februari 2019

SUNGAI DAN TONG SAMPAH



Fonna Zahra

Sebuah kendaraan bermotor yang dikendarai oleh seorang laki-laki paruh baya yang membonceng seorang perempuan seumuran, tiba-tiba melambat lajunya di  atas jembatan Unteunkot, Cunda. Jembatan yang  telah sekitar 5 tahun dibuat dua jalur, dengan model yang sangat unik. Jalur lama, arah lhokseumawe-Lhoksukon, badan jalan rendah, dengan pagar kiri kanan yang setinggi  pinggang orang dewasa. Sementara jalur Lhoksukon-Lhokseumawe, badan jembatan tinggi melengkung dengan pagar kiri kanan yang sangat tinggi melengkung pula dari arah kiri dan kanan. Jembatan itu seumpama orang pincang, begitulah. Sebuah desain yang egois.

Kendaraan itu berhenti tepat di tengah  jembatan, sesuatu kemudian melayang kea rah kiri, agak tinggi sebelum tercemplung ke alirah sungai  yang mengarah ke laut pusong itu. Ketika kendaraan saya semakin dekat, saya mencoba melihat ke arah mereka dengan detil dengan melambatkan kendaraan. Penampilan necis, berbaju kemeja, celana kain, sang perempuan paruh baya berjilbab lebar warna hijau tua, baju gamis coklat terang. Penampilan keduanya sangat parlente, bersih dan rapi, seperti orang kerja kantoran. Istilah lainnya orang berduit dan berpendidikan. Tetapi kok untuk mengurus sampah aja mesti melibatkan sungai?
Miris, sedih, tak terkira perasaan saya waktu itu. Sepertinya bungkusan plastik itu bagai dilempar ke muka saya. tak habis piker saya, kemana hati nuraninya? Kemana pikiran sehatnya? Astaghfirullah. Andaikan generasi  kami ini tidak bisa mencintai lingkungan, ya Allah anugerahkan kepada generasi penerus kami kecintaan itu. Sadarkanlah anak cucu kami ya Allah, semoga ke depan, kelakuan kami yang buruk ini tidak diwarisi mereka.
Kejadian serupa bukan pertama kali saya lihat. Di jembatan sungai Bungkaih waktu itu saya lihat juga seorang bapak muda, melempar kantong plastic berisi sesuatu, yang pasti bukan barang berharga, sengaja ia berkendara dari rumahnya yagn hanya berjarak sekitar 150 meter dari jembatan itu, untuk membuang sampah ke sungai. Menurut kakak saya yang rumahnya juga tak jauh dari situ, kelakuan si Bapak ini sudah sering ia lihat, bahkan setiap kali ia membeli ikan, sisa limbah ikan hasil dia bersihkan, ia bela-belain buang khusus ke sungai, berikut kantong plastiknya.           “Kenapa tidak ia gali lubang aja di belakang rumahnya untuk mengubur limbah ikan itu, padahal halaman rumahnya luas” sungut kakak saya waktu itu.
Satu sisi, saya bahagia mendengar pemikiran kakak saya, Alhamdulillah ia sama seperti saya menyayangi sungai. Di sisi lain, ternyata tidak banyak orang yang seperti saya dan kakak. Buktinya, di jembatan Cunda kejadian siang ini. Dan saya yakin itu bukan kejadian pertama dan terakhir.
Saya selaku pendidik, sangat menyayangkan tingkah laku demikian. Satu sisi saya selalu berusaha optimis, bahwa anak-anak muda sekarang lebih banyak belajar tentang cinta lingkungan, seperti mencintai diri sendiri.  Tidak seperti ketika saya sekolah dulu, tidak sama sekali medapat ilmu tentang bagaimana memperlakukan alam. Kami hanya diberi teori tentang alam, tetapi tidak diberi cara bagaimana semestinya memperlakukannya. Apa efek buruk kalau tidak berbuat baik pada lingkungan. Padahal dalam Islam banyak sekali ayat-ayat yang menyuruh kita menghargai dan mencintai lingkungan demi kehidupan manusia yang harmonis, demi kehidupan manusia yang berkelanjutan, untuk mewariskan lingkungan sehat bagi anak cucu manusia.
Semua ilmu tentang kecintaan lingkungan daya dapat dari pembelajaran kehidupan sewaktu di S2, dan ketika saya sempat training ke Texas akhir tahun 2018 lalu. Padahal bidang ilmu yang saya geluti bukan tentang ilmu alam. Negara tersebut telah menjadikan cinta lingkungan sebagai nafas kehidupannya, dan terpatri dalam setiap diri generasinya, tanpa kecuali. Sungai yang bersih, bebas sampah, hewan air terpelihara baik, populasi ikan terlindungi, burung-burung bebas beterbangan tanpa takut ada penembak atau pemburu, tenyata bukan lagi milik pedesaan kami, tetapi milik kota-kota di Negara maju…

Lhokseumawe.25 Feb 2018. Lagi sedih tentang sungai.

Sumber gambar : 
http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2013/02/20/13848/jembatan-uteunkot-selesai-dibangun/ 

2 komentar: